Rizal Ramli Ungkap Banyak 'Level Atas' Sembunyi di Kasus BLBI

FHR, CNN Indonesia | Kamis, 05/07/2018 17:51 WIB
Rizal Ramli Ungkap Banyak 'Level Atas' Sembunyi di Kasus BLBI Rizal Ramli angkat bicara soal kasus BLBI. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Menko Ekuin) sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KKSK) periode 2000-2001, Rizal Ramli menilai kasus korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) oleh mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung tidak masuk akal.

Rizal mengaku janggal banyaknya pihak yang memiliki kewenangan di atas jabatan Syafruddin tapi tidak ikut dijerat.

"Bahasa sederhananya, ini enggak masuk akal. Kok cuma pak Syafruddin yang diperiksa," kata Rizal di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (5/7).



Menurut Rizal, BPPN tidak bisa mengambil keputusan sendiri karena harus meminta persetujuan KKSK sebelum mengambil kebijakan. Apalagi terkait dengan kebijakan yang strategis. Aturan ini, kata Rizal, sudah diterapkan selama dirinya menjabat Kepala KKSK.

"Jadi menurut kami agak ajaib kasus ini, kok hanya berhenti di level ketua BPPN. Harusnya sampai level-level di atas-atas, yang selama ini selalu sembunyi, seolah-olah enggak ada tanggung jawab," kata dia.


Kasus BLBI mencuat sejak Mei 2002. Saat itu, KPK mencium praktik korupsi dalam penerbitan SKL kepada Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI).

Menurut KPK, kewajiban Sjamsul yang mesti diserahkan ke BPPN sebesar Rp4,8 triliun. Namun Sjamsul baru membayarnya, lewat penyerahan aset perusahan miliknya, Dipasena, yang nilainya hanya Rp1,1 triliun. Alhasil, Sjamsul masih memiliki kewajiban Rp3,7 triliun.

Syafruddin ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK sejak April lalu. Ia dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(DAL)