"Saya mengimbau warga yang tinggal di bantaran sungai agar waspada dengan ancaman lahar hujan," kata Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana, di Karangasem, Bali, seperti yang dikutip dari Antara pada Sabtu (7/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan menggunakan masker dapat meminimalisir terhirupnya abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan pernafasan," ujar Devy.
"Saat ini potensi erupsi dengan abu relatif masih ada dan penyebaran abu vulkanik ini tergantung dari arah dan kecepatan angin," kata Devy.
Ia menerangkan kondisi jalur magma Gunung Agung saat ini mengalami sistem terbuka, mengindikasikan magma bisa naik ke permukaan.
Namun bukan tidak mungkin jalur magma juga bisa tersumbat, karena suplai magma yang berkurang sehingga lava di permukaan kawah bisa mengeras.
"Saat mengeras itulah jika ada suplai magma dari bawah, maka bisa terjadi akumulasi suplai magma, namun tidak keluar secara langsung, karena lava bagian atas kawah mengeras," ujar Devy.
Untuk mengalami erupsi kembali jika lava kawah mengeras, maka perlu suplai magma lebih banyak dengan ditandai gempa vulkanik.
Namun gempa vulkanik yang terdeteksi saat ini belum terlalu dominan dan jumlahnya belum signifikan, sehingga pihaknya belum khawatir jika adanya potensi erupsi yang lebih besar.
"Jika nanti gempa vulkaniknya lebih signifikan, kami akan melakukan upaya pemodelan bahaya apabila perluasannya melebihi radius empat kilometer dari puncak Gunung Agung. Sehingga kami juga akan melakukan evaluasi status dan rekomendasi gunung ini," kata Devy.
(ard)