Wilayah komersial di Jakarta Selatan ini disebut sebagai salah satu yang mengalami kenaikan tinggi pajak bumi dan bangunan (PBB). Kenaikan itu akibat peningkatan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang dilakukan secara zonasi.
CNNIndonesia.com mencoba bertandang ke sana dan bertemu dengan beberapa wirausaha di sekitar Pasar Minggu. Salah satunya Adrian, pemilik warung Mie Keriting di Jalan Ragunan, mengatakan bahwa dirinya yang sudah menyewa tempat selama setahun ke depan mengetahui bahwa NJOP di sekitar wilayahnya naik sekitar 30 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Andri menceritakan bahwa sebenarnya dia mendukung penarikan pajak yang digunakan untuk perbaikan infrastruktur atau kesehatan dan pendidikan masyarakat. Namun, dia berharap pemerintah terlebih dahulu menstabilkan harga-harga bahan pangan sebelum menaikkan PBB terlampau tinggi.
Adrian meyakini kenaikan NJOP bakal berdampak panjang. Dia memperkirakan hal itu akan memaksanya harus menaikkan harga dagangannya karena harga sewa tempat yang akan naik, dan mempengaruhi kemampuannya dalam membayar pegawai.
Selama tiga tahun dia bekerja di kafe tersebut, Siska mengatakan kenaikan sewa tidak terlalu berdampak. Dia berharap pemerintah jangan sampai menaikkan PBB dengan persentase sangat tinggi.
"Wah jangan sampai terjadi seperti yang di Jagakarsa itu. Akan sangat berat bagi kami," kata wanita asal Bogor tersebut.
Sementara itu, Purnomo, Manajer Hotel Banggalawa mengaku kurang mengetahui masalah pembayaran PBB tempatnya bekerja. Namun, sejauh pengetahuannya mengelola hotel tersebut, angka kenaikan pajak selalu disesuaikan dengan perputaran roda ekonomi di wilayah sehingga tak terlalu bermasalah dengan operasional hotel.