ANALISIS

Mimpi Anies-Sandi Bikin Udara Jakarta Bersih Saat Asian Games

Dhio Faiz, CNN Indonesia | Sabtu, 21/07/2018 19:26 WIB
Mimpi Anies-Sandi Bikin Udara Jakarta Bersih Saat Asian Games Suasana jalanan di DKI Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kualitas udara jadi satu dari daftar panjang pekerjaan rumah Pemprov DKI Jakarta selaku tuan rumah Asian Games 2018. Menyajikan udara bersih bagi para atlet dari dalam dan luar negeri dalam 27 hari ke depan nampaknya sekedar angan-angan Gubernur Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno.

Situs pengukur kualitas udara asal Amerika Serikat, Air Visual, kembali mendapuk Jakarta sebagai juara dunia kota paling tercemar pada Kamis (19/7) lalu.

Air Visual mencatat udara Jakarta masuk kategori tidak sehat (unhealthy). Jakarta mengalahkan kota-kota sibuk dunia, seperti Dubai (Uni Emirat Arab), Kuwait City (Kuwait), Mumbai (India), dan Beijing (China).


Ini bukan pertama kali Jakarta mendapat predikat kota paling berpolusi di dunia. Sejumlah kiat sudah ditempuh. Mulai dari menawarkan alat pengubah zat pencemar, pengaturan lalu lintas dengan perluasan sistem ganjil genap. Namun setelah sederet janji, kualitas udara Jakarta tetap yang terburuk di dunia. Dalam dua bulan terakhir, Jakarta hampir selalu mendapat predikat tidak sehat dan masuk jajaran 10 terburuk.
Direktur Eksekutif Komisi Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) Ahmad Safrudin menilai Anies-Sandi tak serius menghadirkan udara bersih di Jakarta. Padahal, sudah ada sederet aturan terkait pengendalian pencemaran udara, seperti Perda 2/2005 tentang Pencemaran Udara. Lalu ada juga UU 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Namun tak pernah dijalani.

"Contoh di depan mata, uji emisi sudah diamanatkan dua aturan. Tapi sejak 1996, masa uji emisi sifatnya masih sukarela, pengendara yang mau saja, kan konyol," kata Safrudin kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (21/7).

Safrudin juga mengkritik sistem ganjil genap yang baru. Menurut perhitungan KPBB, perluasan ganjil genap seharusnya mampu menurunkan 28-46 persen karbon dioksida yang mencemari udara Jakarta dalam satu tahun.

Meski demikian pelaksanaannya belum serius. Masih banyak pelanggar yang dibiarkan. Lalu transportasi umum juga tak disiapkan sebagai langkah memfasilitasi perpindahan dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
"Agak mustahil, tapi selambat-lambatnya 35 hari sebelum Asian Games semua konstruksi dihentikan karena itu menghasilkan polusi debu yang luar biasa. Lalu menerapkan ganjil genap di semua wilayah agar polusi turun, bukan hanya berpindah," ujarnya.

Menurut pakar Ilmu Keolahragaan Institut Teknologi Bandung Tommy Apriantono, kualitas udara Jakarta yang buruk berpotensi mengganggu perhelatan Asian Games 2018. Tommy menyebut kualitas udara yang buruk bakal memengaruhi cabang olahraga yang dilakukan di luar ruangan dan berdurasi panjang. Olahraga seperti itu membutuhkan asupan oksigen yang banyak.

"Kalau tinggi tingkat polusi udara, khususnya karbon dioksida, sangat memengaruhi cabang tertentu misalnya lari marathon dan jalan cepat," kata Tommy saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Kejadian seperti ini, ucap Tommy, pernah terjadi saat perhelatan Olimpiade 2008 di Beijing, China. Saat itu kualitas udara sangat buruk, bahkan jarak pandang sangat pendek.

Komite Olimpiade Internasional (IOC) sampai turun tangan. IOC meminta Pemerintah China untuk melakukan segala cara untuk menekan polusi udara di Negeri Tirai Bambu.
Akhirnya Pemerintah China memutuskan melarang kendaraan bermotor masuk ke Kota Beijing. Mereka juga menghentikan semua proyek pembangunan infrastruktur. Alhasil kualitas udara cukup membaik pada gelaran yang berlangsung 8-24 Agustus 2008.

"Kalau Jakarta masih seperti ini, gugatan dari kontingen mungkin tidak ada, tapi akan ada keluhan. Itu kan memalukan negara kalau sampai dikeluhkan," ujar Tommy. (ayp/asa)