Hafizd Mukti Ahmad
Pernah berprofesi sebagai jurnalis sejak 2009 di sejumlah media nasional, gemar memasak, jalan-jalan dan bermain musik​.​

Tabir Rahasia Cawapres Jokowi

Hafizd Mukti Ahmad, CNN Indonesia | Selasa, 24/07/2018 14:18 WIB
Tabir Rahasia Cawapres Jokowi (Antara/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hingga saat ini masih belum jelas tokoh yang akan mendampingi Jokowi dalam pilpres 2019 setelah menurut undang-undang JK dilarang untuk kembali berlaga sebagai calon wakil presiden.

Sembari menunggu hasil langkah untuk mengubah aturan itu melalui Mahkamah Konstitusi, banyak nama-nama tokoh yang masuk bursa calon pendamping Presiden Jokowi.

Nama-nama yang muncul di media memperlihatkan sejumlah kriteria yang kemungkinan digunakan oleh Jokowi dalam memilih orang kedua pemerintah Indonesia berdasarkan konteks terkini dan dinamika terbaru.


Pemilihan pasangan Jokowi juga ditunggu oleh kubu penantang, bisa jadi mereka pun sudah tahu nama-nama yang ada di kantong Jokowi.


Perseteruan politik yang muncul di media massa sering kali hanya sekadar itu karena di belakang kamera para politikus berteman dan bertukar informasi sembari menyeruput kopi. Di sinilah sering terungkap informasi yang kemudian diolah untuk menggambar strategi dan kemungkinan langkah politik masing-masing kubu.

Pilpres kali ini akan menyajikan sedikit drama dan secuil kejutan. Kemungkinan Jokowi akan mengumumkan pasangannya di detik-detik terakhir batas pendaftaran Capres-Cawapres yaitu pada 10 Agustus nanti.

Salah satu kriteria yang mungkin menjadi pertimbangan Jokowi dalam memilih pasangannya adalah dari kelompok Islam, baik ulama ataupun partai Islam.

Hal ini disebabkan oleh polarisasi yang terjadi setelah aksi 212 yang dipicu oleh pernyataan mantan Gubernur DKI Ahok yang menyebabkan dia dinyatakan bersalah melakukan pencemaran agama.

Tabir Rahasia Cawapres JokowiNama TGB kembali menguat setelah ia mundur dari Demokrat pada Senin (23/7) terkait dukungannya kepada Jokowi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Kampanye berbau agama diperkirakan oleh banyak pihak akan mewarnai kampanye pilpres mendatang, tudingan Jokowi anti-Islam akan kembali didengungkan.

Untuk itu Jokowi mungkin menimbang upaya dan langkah meredamnya dengan memilih pasangan dari golongan yang dekat dengan Islam.

Ada tiga nama yang memiliki kesempatan besar menjadi (atau setidaknya dipertimbangkan) pasangan Jokowi di pilpres 2019. Masing-masing nama memiliki kelebihan dan kekurangan.

Pertama adalah Muhammad Zainal Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB).

Tokoh dari NTB ini mencuat menjadi topok yang banyak diperbincangkan di lini masa dan menggemparkan sebagian umat karena secara terang-terangan dan jelas mendukung Jokowi. Padahal dia sempat menjadi salah satu calon presiden yang diajukan oleh Persaudaraan Alumni 212.


Langkah TGB ini juga menggemparkan Partai Demokrat. Partai besutan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini kemungkinan tidak mau bertindak gegabah memecatnya karena tidak ada lagi tokoh besar di sana.

Memang ada Agus Yudhoyono (AHY). Namun, popularitasnya sebagai politisi masih sering dipandang dengan sebelah mata karena banyak pihak yang memandang sebelah mata karena belum teruji dan terkesan dipaksakan untuk terjun di panggung politik.

AHY harus berjuang keras dengan TGB yang sudah teruji memiliki elektabilitas, berpengalaman dan populer yang merupakan buah dari jabatan sebagai Gubernur NTB selama 10 tahun.

Sementara AHY dipandang sebagai preseden buruk dalam pengkaderan partai secara umum. Tanpa pengalaman berorganisasi (sipil), tidak melalui pengkaderan organik melalui perintisan karir partai dari ranting, kabupaten/kota, provinsi atau tingkat pusat.

Tabir Rahasia Cawapres JokowiNama Mahfud juga muncul dalam bursa calon cawapres Jokowi. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Momentum pernyataan dukungan TGB pada Jokowi menguntungkannya. Sikap partai Demokrat yang sering kali abu-abu, dan bisa jadi terulang lagi di pilpres 2019, bisa menjadi jelas jika Jokowi memilih TGB sebagai wakilnya.

Demokrat terhimpit, karena sulit atau bahkan tidak mungkin melepas kader yang satu ini. Dicaci oleh pihak yang tersakiti dan puja-puji atas pernyataan TGB mendukung dua periode Jokowi hal wajar dalam politik, namun suka tidak suka, mau tidak mau, tidak ada yang bisa menyangkal jika TGB adalah berlian dari timur Indonesia.

Keberadaan nama TGB di bursa cawapres Jokowi pun dibenarkan oleh Ahmad Basarah, juga pernyataan setengah teka-teki Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristyanto mewakili Megawati Soekarnoputri soal pengumuman cawapres yang akan diumumkan di hari yang cerah, "secerah matahari yang terbit dari timur." Silakan menganalisa pernyataan itu. Restu Megawati dianggap telah menyertai.

Namun, restu Megawati, ternyata tidak hanya dimiliki TGB. Megawati pun membuka restu sama besar bagi satu tokoh lain yang bisa diterima semua partai koalisi tanpa banyak kompromi, Mohammad Mahfud MD.

Tidak seorang pun yang bisa meremehkan seorang Mahfud MD. Guru besar Hukum yang berasal dari Omben, Sampang Madura ini telah teruji nyaris di setiap lini dan spesifikasi hukum dan tata negara.

Tiga jabatan dalam tiga pilar demokrasi pernah ia emban. Di kancah politik ia pernah menjadi anggota dewan PKB. Jabatan eksekutif sebagai Menteri Pertahanan era Abdurahman Wahid dan Ketua Mahkamah Konstitusi untuk ranah yudikatif.


Dia pernah ada di dua kubu bersebrangan saat Pemilu 2014, menjadi ketua tim kampanye kubu Prabowo-Hatta Rajasa, dan tetap memiliki kecenderungan netral dalam setiap pernyataan di antara kubu yang bersaing dengan pernyataan objektif juga terukur.

Sekarang Mahfud adalah anak buah langsung Megawati dalam upaya sosialisasi Pancasila di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Dia nyaris tak memiliki musuh di pihak manapun. Seorang yang agamis dengan latar belakang 'keras' seorang Nahdiyin dan Gusdurian.

Hingga saat ini, Mahfud MD kandidat lengkap dan mumpuni mendampingi Jokowi, bahkan restu Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh disinyalir telah Mahfud dapatkan. Reaksi Mahfud pun dalam penyataannya tidak menolak namun tak juga terlalu yakin, dan siap jika memang ditakdirkan. Sebelas dua belas dengan TGB.

Mahfud secara kedekatan adalah representasi Nahdiyin, seorang NU sejati, yang jelas sangat bisa diterima oleh keluarga besar NU lewat payung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), besutan Muhaimin Iskandar.

Tabir Rahasia Cawapres JokowiRomy merupakan salah satu politisi muda yang namanya masuk bursa cawapres Jokowi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Nama ketiga adalah Romahurmuziy, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan.

Dari informasi lingkar kekuasaan, Romy mendapat dukungan Ketua Umum NasDem Surya Paloh.

Sosok Romy dianggap sosok muda, pembaharu, modern, dinamis namun sangat agamais, dan belakangan dalam setiap pernyataannya cakap merepresentasikan Jokowi sebagai pemimpin.

Namun, memang sosok Romy tidak senetral Mahfud MD dan TGB pasca pernyataan dukungan terhadap Jokowi, sehingga restu Surya Paloh tidak segaris dengan restu Megawati terhadap Romi.

Dalam sebuah kesempatan pertemuan saya dengan Surya Paloh, ia pernah menyatakan lebih memilih menjadi seorang 'king maker' jika tidak memiliki kesempatan untuk menjadi presiden. "Abang ini, jika tidak menjadi presiden, maka tidak sama sekali."

Romy bukannya tidak menginginkan posisi RI 2, sebagai politisi muda, dengan perhitungan politik lebih jauh bukan tidak mungkin menjadi suksesor Jokowi di 2024.

Karier Romy masih sangat panjang, peluang itu besar setelah 2019. Dari pelajaran pemilu kebelakangan, calon wakil presiden yang kalah berakhir dengan 'pengangguran' di kancah politik nasional.

Mari lakukan hitung-hitungan peluang antara TGB, Mahfud dan Romy. Jika melihat restu para 'sesepuh' politik nasional, Mahfud MD dan Romy mendapat restu dari Surya Paloh dan Megawati, dan tentunya Cak Imin. Sedangkan TGB direstui juga Megawati. Maka, Mahfud mendapat dua dukungan di luar dukungan samar PKB (baca: NU) melalui Cak Imin, sedangkan Romy dan TGB masing-masing satu restu.

Tiga cawapres ini sama kuat untuk mendampingi Jokowi.

Kekuatan seorang Mahfud MD, dengan tidak menganggap TGB/Romy berada di bawah Mahfud, adalah bentuk investasi politik yang telah ia bangun selama 20 tahun terakhir pascareformasi, tokoh pluralis dan pancasilais yang konsisten.


Dengan menilai dinamika politik jika tanpa drama berarti hingga batas pendaftaran Capres-Cawapres 10 Agustus nanti, tiga nama kandidat ini adalah paling potensial, ketiganya bisa diterima semua pihak.

Jika dikerucutkan lagi, maka Mahfud MD menjadi yang terkuat. TGB dan Romy sudah mendapat kuncian karir politik cemerlang jika mereka sabar menunggu, setidaknya di 2024, untuk meneruskan warisan Presiden RI ke-7 Joko Widodo. (asa)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS