Lebih dari 5 Ribu Petir Sambar Muara Teweh dalam Tiga Jam

Dika Dania Kardi, CNN Indonesia | Jumat, 27/07/2018 02:48 WIB
Lebih dari 5 Ribu Petir Sambar Muara Teweh dalam Tiga Jam Ilustrasi petir. (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 5.854 kali sambaran petir melanda wilayah Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, ketika terjadi hujan ringan pada Kamis (26/7). Itu terjadi setidaknya selama tiga jam sekitar pukul 01.05 sampai jam 4.10 WIB.

"Puncak sambaran petir terjadi pada Kamis dinihari sekitar pukul 01.53 WIB hanya sekitar dua kali sambaran petir," kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Barito Utara, Juli Budi Kisworo. melalui Kepala Kelompok Teknisi BMKG, Sunardi di Muara Teweh, Kamis (26/7) seperti dikutip dari Antara.


Ia menyatakan hal itu tercatat dalam alat deteksi sambaran petir (Lightning Detector) yang dimiliki BMKG Muara Teweh saat terjadi hujan dengan intesitas ringan dan angin sedang pada Kamis dinihari.


"Hujannya hanya 9,2 milimeter atau intensitas ringan... Angin terbanyak ke arah timur, tidak kencang hanya sekitar tujuh kilometer per jam, namun petirnya yang kuat," katanya.

Puncak sambaran petir berada di kawasan Timur Laut yakni di wilayah Kecamatan Teweh Baru.

"Kami belum menerima laporan apakah rentetan sambaran petir yang terjadi pada Kamis dinihari itu berdampak merusak atau tidak," jelas dia.

Alat pendeteksi sambaran petir di Pulau Kalimantan hanya berada di wilayah Kalteng yang mulai dioperasikan sejak Agustus 2006. Selain di Muara Teweh, alat serupa terdapat di Palangka Raya dan Pangkalan Bun.

Kabupaten Barito Utara yang berada di pedalaman Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito ini merupakan kabupaten di tengah-tengah Pulau Kalimantan sebagai kawasan lintasan angin dan pusat pertemuan awan serta berada di wilayah lintasan garis Khatulistiwa.

"Dasar pertimbangan itulah Kabupaten Barito Utara dilengkapi alat pendeteksi sambaran petir karena potensi petir sangat besar terjadi di daerah ini," kata Sunardi.


Sementara itu, kepada CNNIndonesia.com, Kepala Bagian Humas Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Hary Tjatmiko menyampaikan peringatan dini cuaca periode 26-28 Juli 2018.

Dalam peringatan itu disebutkan wilayah-wilayah yang berpotensi hujan lebat disertai angin kencang dan kilat atau petir. Daerah-daerah itu adalah Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Papua.

"Massa udara basah lapisan rendah terkonsentrasi di wilayah sebagian besar Sumatra, Kalimantan bagian timur dan utara, Sulawesi bagian utara dan tengah, NTT, Maluku Utara, Maluku bagian tenggara, Papua Barat, dan Papua bagian utara. Hal ini menyebabkan proses konveksi dalam skala lokal, juga turut mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia," demikian peringatan dini cuaca dari BMKG.

(Antara/kid)