Kriteria Capres Ijtima Ulama, Islam dan Berpihak pada Pribumi

Ramadhan Rizki, CNN Indonesia | Sabtu, 28/07/2018 17:17 WIB
Kriteria Capres Ijtima Ulama, Islam dan Berpihak pada Pribumi Ijtima Ulama akan mengeluarkan rekomendasi capres-cawapres sesuai kriteria dan akan diserahkan ke koalisi keummatan, yakni Gerindra, PKS, PAN, PBB, Berkarya. (CNN Indonesia/ Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ratusan orang mulai memadati lobby Menara Penisula, Slipi, Jakarta Barat, sejak Sabtu (28/12) pagi untuk mengikuti pelaksanaan Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional hari kedua yang diselenggarakan oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama.

Pantauan CNNIndonesia.com, beberapa tokoh terlihat hadir dalam acara hari ini, di antaranya Ketua Umum GNPF Yusuf Muhammad Martak, Ketua Presidium Alumni 212 Slamet Maarif, dan tokoh sekaligus ulama Betawi Abdul Rasyid Abdullah Syafi'i.

Agenda Ijtima hari ini sedianya akan menghasilkan rekomendasi nama calon presiden dan calon wakil presiden yang nantinya akan diserahkan ke lima partai politik yang tergabung dalam koalisi keummatan untuk Pilpres 2019 mendatang.


Kelima partai dimaksud diantaranya Partai Gerindra, PAN, PBB, PKS, dan Berkarya yang telah berkomitmen akan membentuk koalisi di Pilpres 2019.

"Jadi kesepakatan dari Ijtima Ulama ini akan mengerucutkan nama capres-cawapres, lantas nama-nama itu akan kita serahkan ke Parpol yang tergabung dalam koalisi keumatan untuk Pilpres 2019," kata Ketua Umum GNPF Yusuf Muhammad Martak.

Pembuatan rekomendasi capres-cawapres, menurut Yusuf, akan diawali dengan proses penyampaian aspirasi dari seluruh peserta Ijtima.

Ia mengatakan bahwa ratusan ulama yang hadir telah menetapkan kriteria umum dan khusus bagi kandidat capres dan cawapres yang bakal diusung di Pilpres 2019 itu.

Menurutnya, terdapat lima kriteria umum capres-cawapres yang disepakati, yakni harus memiliki iman dan takwa, memiliki ilmu dan kompetensi, sehat jasmani dan rohani, memiliki keberpihakan kepada pribumi dan umat Islam, serta bebas dari "paham liberalisme, komunisme, kapitalisme dan sekularisme."

"Sedangkan kriteria khususnya harus Muslim yang taat beribadah, memiliki karakter yang jujur dan terpercaya, cerdas dan tabligh, harus memahami subtansi UUD 1945, memiliki kemampan manajerial kepemimpinan dan membela umat Islam," tambahnya.

Bentuk Forum Ulama 212

Selain rekomendasi capres-cawapres yang sesuai kriteria umum dan khusus, Ijtima ulama dalam kesempatan itu juga akan melahirkan "Forum Ulama 212' yang akan diisi oleh 212 ulama yang berasal dari seluruh daerah di Indonesia.

Forum ini nantinya akan menjadi tempat para ulama untuk memutuskan dan memberikan rekomendasi bagi umat Islam di tiap-tiap daerah agar tak salah langkah dalam memilih kandidat dalam pilkada selanjutnya.

"Mereka nantinya akan menjadi semacam tempat kembali para kaum muslimin dari masing-masing provinsi, dan ini menjadi pedoman bagi umat Islam jika nanti ingin memilih gubermur wakil gubernur, walikota bupati dan lain-lain," ujarnya.

Yusuf menjelaskan bahwa nama '212' dalam forum tersebut terilhami dari aksi damai 212 yang berlangsung pada tanggal 2 Desember 2016 lalu.

"Sehingga umat dalam memilih pemimpin daerah berpedoman yang ditentukan dalam Ijtima Ulama," pungkasnya.

Untuk diketahui GNPF Ulama menggelar Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional yang berlangsung sejak 27-29 Juli 2018 di Hotel Menara Peninsula, Slipi, Jakarta Barat sejak Jumat (27/7).

Acara ini digelar sebagai wadah bagi para ulama untuk menyampaikan agar koalisi keummatan segera terbentuk. Langkah ini juga menindaklanjuti diskusi para ulama yang dilakukan beberapa waktu sebelumnya.

Saat pembukaan acara kemarin, turut hadir Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, Presiden PKS Sohibul Iman, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Ketua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra, dan Ketum PBB Yusril Ihza Mahendra. (osc/osc)