Anak-anak Pengungsi Korban Gempa NTB Kangen Sekolah

Dika Dania Kardi, CNN Indonesia | Rabu, 01/08/2018 10:20 WIB
Anak-anak Pengungsi Korban Gempa NTB Kangen Sekolah Sejumlah warga korban gempa berada di pengungsian di lapangan Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Selong, Lombok Timur, NTB, Minggu (29/7). (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah anak korban gempa yang berada di lokasi pengungsian di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat berharap bisa masuk sekolah lagi seperti biasanya.

Salah satunya Anto Wahyudi (12) yang ikut keluarganya mengungsi ke lokasi di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun. Anton yang merupakan siswa kelas VII MTs Nadhlatul Wathan tersebut mengaku jenuh tanpa aktivitas di pengungsian. Di lokasi pengungsian itu memang belum digelar sekolah darurat bagi anak-anak pengungsi.

"Kalau di sekolah kan kita bisa belajar. Tidak seperti sekarang di posko pengungsian, hanya diam saja," ujarnya, Selasa (31/7) seperti dikutip dari Antara.



Diakuinya, sejak gempa bumi terjadi praktis aktivitas sekolah diliburkan. Sejumlah ruang kelas di madrasah tempatnya belajar sudah tidak bisa digunakan lagi karena rusak akibat guncangan gempa.

Kerinduan senada diungkap Hafizah, siswi kelas V di SDN 3 Sajang.

"Ya kangen mau sekolah lagi," terangnya.

Walaupun ingin kembali ke sekolah, ia menyatakan masih takut untuk keluar. Hafizah mengaku ia masih terngiang dengan kepanikan yang terjadi saat gempa 6,4 SR yang mengguncangkan wilayah tersebut pada Minggu (29/7) pagi. Bukan hanya itu, rumah sebagai tempat dirinya berteduh bersama keluarga sudah roboh akibat guncangan gempa.

"Kalau di posko pengungsian kita hanya bermain aja, enggak bisa belajar," ucapnya.

Dusun Sajang, Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur menjadi salah satu lokasi terparah gempa bumi 6,4 SR yang menguncang Nusa Tenggara Barat, dan getarannya terasa hingga ke Bali.

Dari data yang diperoleh dari BPBD Lombok total 10 sekolah dasar dalam kondisi rusak, 66 ronbel rusak berat, 42 kelas rusak ringan dengan total siswa sebanyak 1.042 orang. Hingga kemarin, BPBD Lombok mencatat 17 orang meninggal jadi korban gempa, termasuk di antaranya satu warga Malaysia, dan satu warga Makassar, Sulawesi Selatan.


Anggota DPRD Nusa Tenggara Barat, Johan Rosihan yang memantau sejulam lokasi tedampak gempa di Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Utara mengatakan para pengungsi tidak hanya memerlukan bantuan logistik dan kesehatan, tetapi juga butuh penyembuhan dari trauma.

"Pada saat kami keliling dan berbicara dengan mereka, ternyata banyak di antara warga baik orang dewasa maupun anak-anak itu masih takut kembali ke rumah," ujar Johan saat berada di lokasi bencana di Desa Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Rabu (1/8) seperti dikutip dari Antara.

Johan mengatakan warga, terutama yang rumahnya hancur akibat gempa, adalah yang paling harus jadi tujuan penyembuhan dari trauma. Apalagi ketika getaran akibat gempa susulan kembali terasa.

"Nah, ini juga penting dibutuhkannya tim 'trauma Healing' karena mereka masih sangat trauma melihat dalam rumahnya sendiri. Bahkan untuk makan saja, mereka ada yang tidak sanggup karena kondisi psikologis," kata Ketua Komisi III DPRD NTB tersebut.

Soal trauma itu diakui petugas kesehatan keliling dari Puskesmas Dasan Lekong, Kabupaten Lombok Timur, Rupaini. Rupaini mengatakan selama melakukan bantuan kesehatan kelieling di lokasi pengungsian, ia pun sering mendapat keluhan rasa takut para warga.

"Jadi keluhan warga itu selain sakit maag kritis, pusing-pusing, panas, batuk-batuk, diare. Mereka mengeluhkan ke kita, kalau masih takut kembali ke rumah," katanya

"Makanya saat kita bertugas, selain perawat, dokter, dan bidan. Ada juga petugas konseling yang ikut turun ke posko pengungsian," jelasnya.

Anak-anak Pengungsi Korban Gempa Lombok Rindukan BersekolahFoto aerial kerusakan bangunan akibat gempa bumi di Desa Sajang, Lombok Timur, NTB, Senin (30/7). (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Gempa dengan Titik di Daratan

Sementara itu, pada pagi tadi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat terjadi gempa yang kembali mengguncang Pulau Lombok, NTB. Gempa berkekuatan 3,3 SR itu terjadi pada pukul 04.36 WITA, dan tidak berpotensi tsunami.

Hasil analisis BMKG menunjukkan pusat gempa bumi terletak pada koordinat 8,84 derajat lintang selatan dan 118,31 derajat bujur timur.

"Gempa bumi tersebut terjadi di darat pada jarak 16 kilometer tenggara Kabupaten Lombok Tengah pada kedalaman 11 km," kata Kepala Stasiun Geofisika Mataram Agus Riyanto.

Ia mengatakan dengan memperhatikan lokasi episenter, kedalaman hiposenter dan mekanisme sumbernya, maka gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust).

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa bumi tersebut dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault)," ucap Agus.

Guncangan gempa bumi, lanjut Agus, dilaporkan telah dirasakan di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, dan Kecamatan Belanting di Kabupaten Lombok Timur. Guncangan gempa di kedua kecamatan tersebut mencapai skala intensitas I skala intensitas gempa (SIG) BMKG, atau II "modified mercalli intensity" (MMI).

Hingga pukul 06.30 WITA, belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut.

(Antara/kid)