Banyak nama yang muncul dalam survei. Namun Jokowi dan Prabowo tercatat unggul jauh dari kandidat-kandidat lainnya. Pertarungan diprediksi hanya akan terjadi antara dua pihak itu.
"Capres kami rasa sudah selesai. Jokowi dan Prabowo sudah terlalu tinggi, nama-nama lain sangat jauh. Kalau ada nama di luar dua nama ini mungkin agak berat mengejar," Kepala Peneliti Alvara Harry Nugroho, pada jumpa pers di Jakarta Pusat, Jumat (3/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Soal elektabilitas calon presiden, 48,4 persen memilih Jokowi, 32,2 persen memilih Prabowo," lanjut Harry.
Wakil Presiden Jusuf Kalla bersaing di survei capres. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Meski beda tipis, kata Harry, elektabilitas Jokowi dan Prabowo mengalami kenaikan dibanding survei sebelumnya. Pada survei Alvara bulan Mei, Jokowi memiliki elektabilitas 46,8 persen, sedangkan Prabowo 27,2 persen.
Pada simulasi kedua, petahana dihadapkan dengan mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Jokowi meraih 55,6 persen, Gatot 6,3 persen, dan 38,1 persen belum memutuskan.
Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memiliki elektabilitas yang terpaut jauh dari Jokowi dan Prabowo. (CNN Indonesia/Mesha Mediani) |
Sebelumnya, LSI Denny JA melansir elektabilitas Jokowi mencapai 49,30 persen. Survei digelar 28 Juni-5 Juli 2018 melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner.
(arh/gil)
Wakil Presiden Jusuf Kalla bersaing di survei capres. (
Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memiliki elektabilitas yang terpaut jauh dari Jokowi dan Prabowo. (