Andi Arief, Aktivis 98 yang Labeli Prabowo Jenderal Kardus

Wishnugroho Akbar, CNN Indonesia | Kamis, 09/08/2018 10:51 WIB
Andi Arief, Aktivis 98 yang Labeli Prabowo Jenderal Kardus Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief menyulut polemik setelah menyebut Prabowo Subianto sebagai Jenderal Kardus. (Feri Agus/CNNIndonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Koalisi yang digalang Prabowo Subianto diambang keretakan. Pemicunya adalah pernyataan politikus Demokrat, Andi Arief, yang menyebut Prabowo sebagai Jenderal Kardus.

Andi Arief adalah politikus yang lahir dari rahim reformasi. Pengalaman Andi Arief sebagai aktivis pro demokrasi sedikit banyak membentuk gaya politiknya saat ini.

Dia memang bukan politikus karbitan. Pada 1998 silam, Andi termasuk salah satu dari belasan aktivis mahasiswa yang diculik karena dianggap membahayakan rezim Orde Baru.

Tim Mawar beranggotakan sejumlah personel Kopassus diduga menjadi dalang penculikan aktivis dan mahasiswa. Kebetulan, Prabowo adalah Komandan Jenderal Kopassus kala itu.


Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi (SMID) adalah salah satu organisasi yang menaungi aktivitas politik Andi Arief pada tahun-tahun menjelang keruntuhan rezim Orde Baru. Ia tercatat pernah menjadi Ketua SMID pada 1996.

SMID sendiri bukan organisasi ecek-ecek. Di eranya, organisasi ini dikenal sangat aktif menggalang aksi demonstrasi menolak pemerintahan Soeharto. SMID juga salah satu organisasi yang menggagas terbentuknya Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Sejumlah pengamat menyebut PRD sebagai salah satu lokomotif utama yang menggerakkan perlawanan mahasiswa dan rakyat terhadap rezim Orde Baru. Tak heran, menjelang dan selama reformasi, ada banyak aktivis SMID dan PRD yang menjadi korban penculikan Tim Mawar.
Andi Arief, eks Aktivis SMID yang Permalukan Prabowo SubiantoKetum Gerindra Prabowo Subianto menyambangi kediaman SBY. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Andi diculik di Lampung, 28 Maret 1998 atau hanya dua bulan menjelang jatuhnya Soeharto dari kursi presiden. Aktivis SMID dan PRD yang juga diculik saat itu antara lain Suyat, Nezar Patria, dan Mugiyanto.

Bersama sejumlah rekannya, Andi termasuk salah satu yang dilepaskan. Sementara beberapa rekan Andi yang lain belum diketahui nasibnya sampai saat ini.

Jatuhnya Soeharto dan kekalahan PRD pada Pemilu 1999 menjadi fase baru dalam karier politik Andi.

Tahun-tahun menjelang pemilu 2004, Andi terpantau merapat ke kubu Susilo Bambang Yudhoyono. Dia memimpin sebuah organisasi relawan yang bertujuan memenangkan pasangan SBY-JK saat itu.

Keputusan Andi mendukung SBY sempat mendapat sorotan lantaran SBY saat aktif di militer beberapa kali dikaitkan dengan sejumlah kasus pelanggaran HAM.

Andi bergeming. Dukungannya bahkan turut menyumbang kemenangan bagi SBY.

Kariernya pun semakin moncer. Dia pernah didapuk oleh SBY sebagai Komisaris PT Pos Indonesia. Andi juga pernah menjadi staf khusus Presiden SBY sampai akhirnya kini dipercaya sebagai Wakil Sekjen Partai Demokrat.

Kini Andi kembali mendapat sorotan. Dia menyebut Prabowo sebagai Jenderal Kardus. Sebutan itu lantaran batalnya pertemuan Prabowo dan SBY yang sedianya digelar pada Rabu (7/8) malam.

Andi menyebut batalnya pertemuan lantaran Prabowo telah memilih Sandiaga Uno sebagai cawapresnya di Pilpres 2019. Andi menuding keputusan Prabowo itu karena mendapat uang dari Sandiaga Uno.

"Jenderal Kardus punya kualitas buruk, kemarin sore bertemu Ketum Demokrat dengan janji manis perjuangan. Belum dua puluh empat jam mentalnya jatuh ditubruk uang sandi uno untuk mengentertain PAN dan PKS," kata Andi lewat akun @AndiArief.