Ulama Tertinggi Cawapres Jokowi, Hasil Ijtimak Tak Relevan

CNN Indonesia | Sabtu, 11/08/2018 05:45 WIB
Ulama Tertinggi Cawapres Jokowi, Hasil Ijtimak Tak Relevan Prabowo Subianto dan sejumlah petinggi parpol saat menghadiri Ijtimak Ulama di Jakarta. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily menyindir keputusan koalisi Gerindra, PAN, PKS dan Demokrat yang mengusung Sandiaga Uno sebagai cawapres Prabowo Subianto pada pilpres 2019.

Ia mengatakan hasil Ijtimak Ulama yang diselenggarakan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama beberapa waktu lalu tidak relevan digunakan saat ini karena Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin menjadi cawapres Jokowi.

"Sekarang Ijtimak Ulama menjadi sangat tidak relevan karena pemimpin ulama tertinggi sudah jadi cawapres Pak Jokowi," kata Ace saat ditenui di kantor KPU, Jakarta Pusat, Jakarta, Jumat (10/8).



Hasil Itjimak Ulama yang terselenggara di Hotel Peninsula pada akhir Juli lalu merekomendasikan Prabowo Subianto sebagai capres dan Salim Segaf Al Jufri atau Abdul Somad sebagai cawapres pada pilpres 2019.

Ace lantas menilai keputusan koalisi Prabowo memilih Sandiaga sebagai wakilnya, tak mengakomodasi aspirasi para ulama yang sudah menyelenggarakan Ijtimak.

Ulama Tertinggi Bersama Jokowi, Hasil Ijtimak Tak RelevanKetua Bidang Media dan Penggalangan Opini DPP Golkar TB Ace Hasan. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Ia menilai kepentingan PKS dan PAN juga tak terakomodasi sebab kedua partai itu mengusulkan cawapres Prabowo harus berdasarkan hasil Ijtima Ulama.


"Yang harus kita tahu bahwa PKS, PAN, artinya kan mereka tidak dalam konteks sharing power-nya itu kan tidak terakomodasi. Padahal selama ini PKS selalu mendasarkan diri pada Ijtima Ulama," kata dia.

Ace mengatakan parpol Koalisi Indonesia Kerja tak terkejut dengan dipilihnya Sandi sebagai cawapres Prabowo

Menurutnya, isu itu makin santer terdengar beberapa hari yang lalu karena kabar dugaan mahar politik dalam pencalonan cawapres di koalisi PAN, Gerindra dan PKS.

"Sudah, dapat kita duga sebelumnya karena kan isunya sudah sejak tiga hari yang lalu. Jadi menurut saya tidak ada kejutan yang luar biasa," ujarnya.

(pmg/pmg)