Gerindra Tantang Jokowi Adu Program: Emak-emak Sudah Teriak

Feri Agus, CNN Indonesia | Kamis, 16/08/2018 16:17 WIB
Gerindra Tantang Jokowi Adu Program: Emak-emak Sudah Teriak Gerindra menantang partai koalisi pendukung Jokowi untuk beradu program dan gagasan, terutama soal bagaimana mengangkat ekonomi dari keterpurukan. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gerindra meminta koalisi pendukung Jokowi-Ma'ruf Amin tidak memperpanjang dugaan mahar politik Rp500 miliar yang menyeret nama cawapres Sandiaga Uno. Anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra, Andre Rosiade menantang koalisi Jokowi beradu program, utamanya di bidang ekonomi.

Pernyataan itu merupakan respons terhadap Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang menyatakan bahwa isu mahar Rp500 miliar lebih parah ketimbang kegagalan Mahfud MD menjadi cawapres Jokowi.

"Mari kita adu gagasan, adu program bagaimana Pak Jokowi mengeluarkan program menyelamatkan ekonomi, Pak Prabowo juga mengeluarkan program-program soal ekonomi," kata Andre kepada CNNIndonesia.com, Kamis (15/8), di Jakarta.


"Apalagi saat ini harga telor hampir sama seperti harga daging ayam, kita fokus ke ekonomi, emak-emak sudah teriak, mas Hasto," ujarnya.


Pasangan calon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno belakangan memang aktif mendekati kalangan ibu rumah tangga.

Pada Selasa (14/8), ratusan ustazah dan 'emak-emak' bahkan mendeklarasikan dukungan kepada Prabowo-Sandiaga. 

Deklarasi tersebut dipimpin oleh Nurdiati Akma yang merupakan Ketua Umum Forum Silaturahmi Antar Pengajian (Forsap), di Gedung Dakwah Haji Asyiyah, Tebet, Jakarta Selatan.

"Dengan ini kami mendeklarasikan diri untuk mendukung Prabowo Subianto dan Sandiaga Slaahuddin Uno menjadi presiden dan wakil presiden Republik Indonesia periode 2019-2024," tutur Nurdiata.

Lebih lanjut Andre mengklaim dugaan pemberian mahar Rp500 miliar dari Sandiaga kepada PAN dan PKS hoaks. Baik PAN, PKS, dan Sandi pun telah membantah itu.

Sebaliknya, kegagalan Mahfud MD menjadi cawapres Jokowi, disebut Andre sebagai fakta.

Ia pun menyebut fakta itu mencerminkan bahwa Jokowi berada dalam tekanan partai koalisi saat memilih cawapresnya. Menurut Andre, situasi yang dihadapi Jokowi itu berbanding terbalik dengan yang terjadi di kubu Prabowo.

Kata dia, meski diwarnai kontroversi partai koalisi pendukung Prabowo pada akhirnya tetap menerima keputusan mantan Danjen Kopassus itu yang memilih Sandiaga.

"Koalisi ini (Prabowo) menerima tanpa perlu ancam-mengancam gitu, loh. Sehingga Presiden Jokowi takut, mengubah pendiriannya," tutur Andre. (wis)