Sam Ratulangi, panggilannya, lahir di Tondano, Sulawesi Utara, pada 5 November 1890. Ia lahir di keluarga pamong, ayahnya Kepala Distrik Kasendukan saat itu.
Ia menempuh pendidikan di Hoofden School (Sekolah Raja) di Tondano. Lalu ia merantau ke Jakarta untuk bersekolah di Sekolah Teknik Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kiprahnya di perjuangan nasional dimulai dari Dewan Kota (Gemeenteraad). Ia menjabat Sekretaris Dewan Kota Minahasa pada 1924-1927.
Setelah berjuang untuk rakyat Minahasa di Dewan Kota selama tiga tahun, Sam Ratulangi pun naik kelas ke tingkat nasional.
Rakyat Minahasa memilihnya sebagai perwakilan di Dewan Rakyat (Volksraad) pada 1927. Di sana pun ia bertemu tokoh-tokoh pergerakan nasional.
Uang pecahan Rp20.000 bergambar pahlawan nasional Dr. G.S.S.J. Ratulangi.(cnnindonesia/safirmakki) |
Dia juga turut andil dalam proklamasi kemerdekaan. Usai Bung Karno dan Bung Hatta memimpin proklamasi, Sam Ratulangi didapuk sebagai Gubernur Sulawesi.
Tugas pertamanya, membawa kabar kemerdekaan ke Sulawesi. Proklamasi Kemerdekaan berkumandang pada 17 Agustus 1945. Namun di Sulawesi, proklamasi baru didengar dua hari setelahnya.
"Baru pada tanggal 19 Agustus 1945 Gubernur Ratulangi mengumumkan secara resmi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu. Ia membacakan kembali bunyi naskah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di hadapan pemuka-pemuka rakyat Sulawesi," tulis Sutrisno Kutojo dalam biografi tersebut.
Bahkan Sekutu sempat mengancam akan menindak rakyat Sulawesi yang melawan mereka.
Sam Ratulangi pun menempuh jalur diplomasi. Dia bersama 549 pemuka Sulawesi menandatangani Petisi Ratulangi dan mengirimnya ke Perserikatan Bangsa-bangsa.
Petisi itu menyatakan ke dunia internasional bahwa Sulawesi adalah bagian yang tak terpisahkan dari Indonesia.
Nama Sam Ratulangi diabadikan sebagai bandara internasional di Manado, Sulawesi Utara. (ANTARA FOTO/Adwit B Pramono) |
Tujuh orang itu dijebloskan ke penjara Makassar. Lalu dibuang ke Serui, Papua. Di sana mereka disambut hangat warga lokal. Sam Ratulangi dan kawan-kawan pun disapa 'Tuan-tuan Merdeka' karena memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Usai Perjanjian Renville pada 1948, Sam Ratulangi dikembalikan ke Indonesia. Ia lalu bertolak ke Ibu Kota Indonesia saat itu, Yogyakarta.
Lihat juga:Dr. Soetomo, Gamelan, dan ASEAN |
Sam Ratulangi dimakamkan di kampung halamannya, Tondano. Negara menganugerahinya gelar pahlawan nasional pada 9 November 1961.
(arh/sur)
Uang pecahan Rp20.000 bergambar pahlawan nasional Dr. G.S.S.J. Ratulangi.(
Nama Sam Ratulangi diabadikan sebagai bandara internasional di Manado, Sulawesi Utara. (