Pemimpin Sekte Penghapus Utang Diduga Gila Hormat

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Jumat, 17/08/2018 03:28 WIB
Pemimpin Sekte Penghapus Utang Diduga Gila Hormat Surat sekte penghapus utang UN Swissindo. (CNN Indonesia/Damar Sinuko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Soegiharto Notonegoro alias Sino yang mengklaim bisa melunasi utang umat manusia di bumi melalui United Nation Trust Orbit Swissindo (UN Swissindo) ternyata cuma bualan. Menurut Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal (Dittipideksus Bareskrim), Sino juga tidak menikmati keuntungan apapun, dan malah dianggap orang yang 'gila' hormat.

"Belum bisa ditemukan keuntungan berupa uang, tetapi dia mendapatkan keuntungan diangkat namanya sebagai tokoh masyarakat, ada yang cium tangan, dihargai dan lain-lain," kata Wakil Dirtipideksus Bareskrim Komisaris Besar Daniel Tahi Monang Silitonga, di Bareskrim, Jakarta Pusat, Kamis (16/8).

Dalam aksinya tersebut, Daniel mengatakan Sino memberikan sejumlah persyaratan kepada pengikutnya. Di antaranya pengikutnya dapat membayar utang di bank maksimal Rp2 miliar. Selain itu juga untuk para pengikutnya yang harus melunasi hutang di bawah tanggal 4 Februari 2016.



"Jadi UN Swissindo bergerak dibidang program pembebas hutang seluruh rakyat Indonesia yang kreditnya di bawah 4 Februari 2016, maksimal besaran hutang Rp2 miliar per kepala," tuturnya.

Kemudian, kata Daniel, kepada pengikutnya UN Swissindo mengklaim akan mendapatkan voucher M1 yang sudah teregistrasi di Bank Mandiri seluruh Indonesia. Hal tersebut untuk para pengikutnya mendapatkan buku tabungan dan kartu ATM.

Voucer M1 itu memiliki nominal sebesar US$1.200 atau setara dengan Rp15 juta bagi setiap orang. Voucer tersebut tidak dapat diperjualbelikan. Selain itu, voucer M1 juga bisa didapatkan dari para pengikut lembaga yang mengklaim bisa menghapus utang ini.

Setelah pengikutnya mencoba mendatangi Bank Mandiri, pihak bank justru mengatakan tidak ada kerjasama dengan UN Swissindo.

"Ternyata pihak Bank Mandiri menolak registrasi dan menolak pembuatan buku tabungan dan ATM. Dari situ Bank Mandiri menyatakan tidak ada kerjasama antara Bank Mandiri dan UN Swissindo," ucapnya.

Sino sendiri telah ditangkap Kota Cirebon, Jawa Barat pada 2 Agustus. Penangkapan tersebut merupakan tindak lanjut dari pengusutan atas pelaporan yang diterima kepolisian. Pengurus UN Swissindo dilaporkan ke Bareskrim sekitar Februari 2018 silam.

Dari penangkapan itu, Daniel menyebut pihaknya mengamankan barang bukti berupa sejumlah mata uang palsu. Sino jiga disangkakan telah melakukan pemalsuan, penipuan dan melanggar Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011.

"(Kami kenakan) pasal pemalsuan, dan penipuan. Kami sita banyak mata uang asing tapi palsu, juga dikenakan UU mata uang," terang Daniel.

Tahun lalu, tepatnya pada 18 Agutus 2017, sejumlah pengikut UN Swissindo menggeruduk kantor Pusat Bank Mandiri Cirebon dengan membawa voucer M1.

Harapan mereka bisa mencairkan uang ditolak pihak Bank Mandiri yang tidak pernah merasa mendapatkan instruksi dari pusat terkait voucer tersebut.

Hal serupa juga terjadi di Kudus, Jawa Tengah.

Tim Publikasi UN Swissindo Rahardjo pernah memberikan keterangan pers terkait pihaknya yang mampu menyejahterakan rakyat Indonesia. Dia mengaku Swissindo memiliki hak untuk mendapatkan warisan dari berbagai pendiri, salah satunya Soekarno.

Aset atau warisan itu, sambung Rahardjo, bisa dicairkan dalam bentuk dolar maupun rupiah hanya dengan voucher M1 ke bank. (ayp/ayp)