KPAI juga meminta Komando Distrik Militer 0820 Probolinggo sebagai pembina sekolah memberi sanksi TK Kartika V Probolinggo lantaran menyelenggarakan pawai anak yang sarat dengan simbol radikalisme tersebut.
"KPAI minta pihak Kodim 0820 Probolinggo sebagai pembina TK Kartika V memberikan sanksi tegas kepada pihak sekolah yang tanpa koordinasi telah menggunakan atribut cadar dan replika senjata dalam kegiatan karnaval tersebut," bunyi pernyataan KPAI yang diterima CNNIndonesia, Minggu (19/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pawai Budaya itu digelar dengan rute Jalan Panglima Sudirman (depan Pemkot) - Jl Suroyo - Alun-alun, dan diikuti sedikitnya 158 anak Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-kanak (TK).
Polisi tengah memeriksa pihak sekolah terkait insiden itu, meski menyatakan tak ada simbol radikalisme atau terorisme dalam acara tersebut.
Kepala sekolah juga berdalih kostum dan atribut itu digunakan demi memanfaatkan properti yang ada agar tidak perlu menyewa lagi, tanpa mengarah pada tujuan maupun tindakan yang melanggar hukum
Pihak sekolah juga mengatakan tema karnaval bertajuk 'Bersama Perjuangan Rosulullah Kita Tingkatkan Keimanan dan Keimanan kepada Allah SWT' dipilih secara spontanitas.
"KPAI menyesali alasan pihak sekolah yang menjadikan tema karnaval 'Perjuangan Rasulullah' sebagai pembenaran pemakaian atribut yang biasa dilekatkan dengan kelompok ISIS, padahal kegiatan itu diselenggarakan dalam rangka Pawai Budaya menyambut HUT Ke-73 RI," tutur KPAI.
"Penjelasan Kepala TK Kartika V soal atribut malah menimbulkan pertanyaan publik, kok bisa sekolah menyediakan seragam cadar dan replika senjata dalam jumlah banyak?"
Lebih lanjut, KPAI meminta kepolisian mengusut tuntas yang diduga terlibat dalam menginisiasi penggunaan atribut karnaval tersebut. Menurut organisasi itu, gelaran pawai bagi anak seharusnya dipersiapkan dengan matang sehingga dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
KPAI juga meminta seluruh pendidik di semua tingkatan sekolah untuk tidak menjadikan simbol gerakan radikal sebagai guyonan atau lelucon.
"Apalagi jika pemakaian atribut cadar dan replika senjata diniatkan untuk hal serius (bukan lucu-lucuan), hal ini patut disayangkan karena terkandung sosialisasi ajaran radikalisme melalui visualisasi atribut yang dikenakan anak-anak," papar KPAI. (age)