BNPB Pastikan Inpres Penanganan Gemba Lombok Terbit Pekan Ini

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Rabu, 22/08/2018 01:49 WIB
BNPB Pastikan Inpres Penanganan Gemba Lombok Terbit Pekan Ini Ilustrasi Gempa Lombok. (Bayu Wiguna/via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho memastikan instruksi presiden (inpres) terkait penanganan bencana Lombok, Nusa Tenggara Barat, akan terbit pekan ini. Dia yakin dalam waktu dekat akan mengumumkan inpres tersebut.

"Presiden menyatakan tidak lama lagi lah. Mungkin dalam minggu inilah. Saya belum tahu nama inpres nya apa tapi kalau dari bencana yang lalu, namanya inpres percepatan penanganan pasca bencana gempa Pidie Jaya," ujar Sutopo dalam konferensi pers di Graha BNPB di Jakarta, Selasa (21/8).

Menurut Sutopo inpres tersebut akan mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi Lombok yang dihantam gempa beberapa kali dalam kurun waktu kurang dari sebulan.


"Dengan adanya inpres tadi maka secara legal forman, kementerian lembaga bertanggung jawab untuk secara total membantu penanganannya dan juga pendanaannya. Itu yang terjadi dalam inpres penanganan pasca bencana Pidie Jaya," ucapnya.


Dia melanjutkan bahwa dalam dua tahun, rehabilitasi dan rekonstruksi dijadwalkan selesai. Kementerian/lembaga berperan menjalankan pernah masing-masing dalam rencana aksi rehabilitasi dan rekonstruksi.

Ia mencontohhkan, kementerian pendidikan membantu menyediakan sekolah, sedangkan kementerian kesehatan menyediakan rumah sakit.

Sutopo juga menjelaskan bahwa pembangunan kembali rumah penduduk pasca gempa telah dimulai hari ini.

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla hadir dalam kunjungan ke pos penampungan di Desa Kekait, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat, NTB, pada Selasa (21/8), untuk secara resmi memulai pembangunan tersebut.


Sutopo menerangkan pembangunan rumah rusak sepenuhnya menjadi tanggung jawab warga penerima bantuan. Namun, mereka akan dibimbing oleh fasilitator dari Kementerian PUPR.

Pemerintah memberikan bantuan dana untuk pembelian material bangunan. Warga yang rumahnya rusak ringan akan diberi bantuan Rp10 juta, rusak sedang Rp25 juta, sedangkan yang rusak berat akan mendapat bantuan Rp50 juta.

Rumah yang dibangun pun adalah rumah-rumah anti gempa yang menggunakan teknologi RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat). Teknologi itu disebut mampu melindungi isinya meski gempa 9 magnitudo menyerang.


Sutopo juga menjelaskan bahwa JK mengharapkan pembangunan satu rumah memakan waktu penyelesaian dengan target 1 bulan, sedangkan target pembangunan seluruh rumah rusak dalam 6 bulan.

Sementara itu, BNPB mencatat rumah rusak yang terverifikasi mencapai 10 ribuan rumah rusak berat. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei mengatakan telah mendistribusikan bantuan dana rumah kepada 5.000 keluarga. Tal lama lagi, mereka akan menerima uang tersebut melalui transfer.

Hingga kini Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Lombok NTB 2018 mencatat total rumah rusak mencapai 73.843 unit. (agi/agi)