BNN Ungkap Lagi Sindikat Narkoba Jalur Laut Lintas Negara

DZA, CNN Indonesia | Jumat, 31/08/2018 23:01 WIB
BNN Ungkap Lagi Sindikat Narkoba Jalur Laut Lintas Negara Ilustrasi pengungkapan sindikat narkoba oleh BNN. (CNN Indonesia/Dhio Faiz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Nasional Narkotika dan Direktorat Jendral Bea Cukai Kementerian Keuangan berhasil mengagalkan penyelundupan narkotika jaringan internasional berupa 114,9 kilogram sabu dan 60 ribu butir ekstasi di beberapa daerah yaitu Aceh, Riau dan Kalimantan dalam satu bulan terakhir.

Barang haram yang masuk ke Indonesia berasal dari Malaysia yang diselundupkan melalui jalur laut. Kemudian barang tersebut disebar oleh para pengedar melalui jalur darat.

"Dari berbagai penindakan ini petugas gabungan telah mengamankan 21 orang tersangka," kata Kepala BNN Irjen Heru Winarko di Kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Jumat (31/8).


Menurut Heru, petugas mengintai para pelaku di Jalan Lintas Riau-Sumatera, Rokan Hilir, Riau pada 4 Agustus 2018. Sekitar pukul 00.15 WIB, petugas berhasil membekuk empat orang tersangka berinisial JM, SIS, RS dan DP.


"Dari penindakan ini petugas mengamankan 30 bungkus narkotika jenis sabu seberat 31,4kg dari malaysia," kata Heru.

Sementara itu, petugas gabungan berhasil mengamankan tiga bungkus plastik bening yang di dalamnya terdapat 30ribu pil ekstasi warna merah jambu dengan berat 4,7kg di Dumai, Riau pada 18 Agustus 2018.

Kali ini petugas berhasil membekuk empat orang tersangka AA, KA, TD dan ZU. Saat penggerebekan salah satu tersangka, AA mencoba melarikan diri dari petugas.

"Maka dari itu tersangka AA pun dilumpuhkan oleh petugas dengan tindakan tegas yang terukur," kata Heru.

Dalam kasus ini petugas BNN melakukan pengembangan penyidikan yang kemudian berhasil meringkus satu orang tersangka berinisial GH di Pekanbaru pada hari berikutnya. Penangkapan dilakukan setelah tersangka KA yan berada di bawah pengawasan petugas menyerahkan satu buah tas kepada tersangka GH.

Selanjutnya, satu unit kapal motor berhasil diamankan oleh petugas gabungan di perairan Aceh Tamiang pada 19 Agustus. Di dalam kapal tersebut ditemukan 70 bungkus sabu seberat 73,5 kg dan 30ribu pil ekstasi dari Malaysia.


Empat orang awak kabin kapal dengan inisial IA, AR, A dan JS. Kasus ini kemudian dikembangkan dan berhasil menangkap tiga tersangka lain IH, I dan RN.

"IH alias Hongkong ini selaku pemilik barang merupakan anggota DPRD Kabupaten Langkat," kata Heru.

Di hari yang sama, petugas gabungan melakukan tindakan di Jalan Trans Kalimantan Kubu Raya, Kalimantan Barat. Dari penggerebekan petugas mengamankan 10 kilogram sabu yang berasal dari Malaysia.

Petugas juga mengamankan tiga orang tersangka yang menjadi target operasi berinisial B, Y, dan G.

"Tersangka G sempat berhasil melarikan diri hingga akhirnya dilakukan pengejaran ke sebuah rumah di Pontianak, dan G berhasil diringkus," kata Heru.

Atas kejahatan yang dilakukan, para pelaku dijerat pasal 114 ayat 2 juncto pasal 132 ayat 1, pasal 112 ayat 2 juncto pasal 132 ayat 1 dalam Undang-Undang 35 Tahun 2009 tentang Narkotiba dengan ancaman pidana mati.


Heru mengatakan bahwa dari empat pengungkapan kasus ini, setidaknya berhasil menyelematkan lebih dari 634ribu anak bangsa dari penyalahgunaan narkoba.

Jalur Laut Masih Favorit

BNN mengungkapkan jalur laut masih menjadi favorit bagi para pengedar narkoba jaringan internasional. Lantaran hampir seluruh tindakan penggerebekan yang dilakukan petugas gabungan dari BNN dan Direktorat Bea Cukai Kementerian Keuangan dilakukan di sekitar perbatasan laut Indonesia.

"Transportasi menggunakan jalur laut lebih banyak kira kira kalau kita hitung persentasenya di Indonesia di atas 80 persen," kata Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari.

Maka dari itu, pihak BNN juga melakukan koordinasi dengan TNI Angkatan Laut untuk memaksimalkan penjagaan di sekitar laut perbatasan. Untuk saat ini Arman menyampaikan yang menjadi daerah rawan penyelundupan berada di sepanjang pantai sebelah timur Pulau Sumatera.


"Kalau lihat tadi dari mulai Aceh, Medan, Riau sampai ke Kalimantan Barat dan timur ini memang garis pantai kita yang sangat rawan," ucap Arman. (ayp/sur)