"Banyak sekali kebijakan dari menteri-menterinya itu yang sebenarnya justru menjadikan keadaan ini lebih buruk," kata Wakil Ketua Umum PAN, Didik J Rachbini lewat sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com, Selasa (4/9).
Didik menilai salah satu penyebab terus melorotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yakni defisit neraca perdagangan yang sudah terjadi sejak 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Defisit dari perdagangan terjadi sangat besar, yang tidak pernah terjadi pada zaman Soeharto, 30 tahun itu surplus terus. Defisit transaksi dagang ekspor-impor itu surplus terus (zaman Soeharto)," ujarnya.
Defisit neraca perdagangan itu disebabkan karena jumlah ekspor yang lebih kecil dibanding impor. Tercatat, ekspor Juli di angka US$16,24 miliar dan impornya di angka US$18,27 miliar.
Didik melanjutkan untuk menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus naik, pemerintah harus meningkatkan ekspor guna menambah devisa. Selain itu, kata Didik di saat yang bersamaan pemerintah harus mengurangi impor.
"Memaksimalkan ekspor, enggak boleh boros dengan impor, sekarang impor boros tidak ditangani dengan baik," ujarnya.
Politisi PAN Didik Rachbini. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama) |
"Jadi itu harus diminta pertanggungjawaban kepada menterinya. Dalam keadaan begini, mengimpor, ngeluarin duit banyak-banyak, itu sebenarnya membunuh diri. Dan itu presiden harus mempertanyakan kepada menteri-menterinya," tuturnya.
Dia pun bilang keadaan nilai tukar rupiah terus merosot lantaran para menteri tak mengakui kebijakan yang mereka ambil itu salah.
'Mengatakan bahwa ini aman-aman saja. Kalau aman berarti, kan, seperti kita, sakit tapi enggak tahu sakit," ujarnya.
Deindustrialisasi
Senada, Sekretaris bidang Ekonomi, Keuangan, Industri, Teknologi DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Handi Risza Idris menyatakan pelemahan rupiah disebabkan kenaikkan nilai impor yang lebih tinggi dari nilai ekspor.
"Akibatnya kondisi nerasa perdagangan terus tergerus. Bahkan kondisi ini telah dialami dalam beberapa tahun terakhir, semenjak tidak adanya kebijakan industri yang kuat," kata Handi saat dihubungi CNNIndonesia.com.
"Bahkan boleh dikatakan kita mengalami deindustrialisasi," lanjutnya.
Ilustrasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Lalu jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, nilai ekspor Indonesia ini mengalami peningkatan 25,19% yang terdiri dari kenaikan ekspor nonmigas sebesar 31,18% dan penurunan ekspor migas sebesar 15,06%.
Akan tetapi, lanjut Handi, kenaikan nilai impor juga terus mengalami peningkatan. Bahkan lebih tinggi dari nilai ekspor.
Handi mengatakan bahwa lemahnya kebijakan industri nasional yang tidak berorientasi kepada ekspor, membuat pertumbuhan ekspor Indonesia menjadi lamban. Handi menilai 16 paket kebijakan yang sudah dikeluarkan Pemerintah kurang efektif untuk mendorong ekspor.
"Pemerintahan sepertinya lebih condong pada kebijakan ekonomi yang berorientasi pada pembatasan impor," ucap Handi.
Handi mengatakan kebijakan yang berorientasi pada pembatasan impor itu justru akan menimbulkan inefisiensi pasar. Hal itu juga berdampak terhadap daya saing produk dalam negeri yang tergolong rendah.
Kebijakan pembatasan impor, lanjut Handi, akan membantu penguatan perekonomian dalam negeri. Namun, itu tidak akan tercapai apabila industri dalam negeri tidak diperkuat seperti saat ini.
"justru akan berdampak terhadap perekonomian nasional. Berbeda dengan China yang memiliki industri yang kuat dan murah sehingga siap menghadapi perang dagang (trade war)," kata Handi. (wis/gil)
Politisi PAN Didik Rachbini. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)
Ilustrasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)