KPK Panggil Melchias Mekkeng untuk Kasus PLTU Riau-1

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 19/09/2018 10:05 WIB
KPK Panggil Melchias Mekkeng untuk Kasus PLTU Riau-1 Mantan Ketua Badan Anggaran DPR Melchias Marcus Mekeng dipanggil KPK terkait kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemanggilan mantan Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Melchias Marcus Mekeng. KPK juga memanggil staf tersangka Eni Maulani Saragih, Tahta Maharaya, terkait kasus dugaan korupsi PLTU Riau-1 dengan tersangka atas nama Idrus Marham.

"Hari ini dijadwakan pemanggilan staf khusus DPR tahta Maharaya dan anggota DPR RI Melchias Marcus Mekeng," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Rabu (19/9).

Selain itu, KPK juga memanggil satu orang swasta untuk diperiksa. "Satu orang saksi untuk tersangka EMS, yaitu Herwin Tanuwidjaja dari pihak swasta," terang dia.


KPK telah menetapkan tiga tersangka di kasus korupsi PLTU Riau-1 yakni Eni, Idrus, dan pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited Johannes B Kotjo.

Eni diduga menerima uang Rp6,25 miliar dari Kotjo secara bertahap. Uang itu merupakan jatah Eni untuk memuluskan perusahaan Kotjo menggarap proyek PT PLN senilai USD900 juta.

Sementara Idrus dijanjikan bakal mendapat USD1,5 juta bila Kotjo berhasil memegang proyek tersebut.

Kasus ini terbongkar pertama kali setelah KPK melakukan operasi tangkap tangan terhadap Eni pertengahan Juli lalu.

Saat ditangkap, Eni berada di rumah politikus Golkar yang juga Menteri Sosial kala itu, Idrus Marham. Dia menghadiri acara ulang tahun anak Idrus. 

Eni ditangkap bersama Bos Apac Group Johanes B Kotjo dan tujuh orang lainnya. 

Pada 15 Juli, Eni yang sudah mendekam di bui menulis surat yang terdiri dari dua lembar. Surat itu beredar di aplikasi pesan singkat Whatsapp.

Di dalam surat itu, Eni mengaku sengaja terlibat dalam proyek dengan dalih mewujudkan idealisme bos Apac Group Johanes Budisutrisno Kotjo, dan Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara Sofyan Basir. Dia mengklaim keduanya berkomitmen buat menyediakan listrik yang terjangkau.

Meski begitu, di dalam surat itu Eni mengakui dia memang meminta supaya Kotjo memenuhi sejumlah kebutuhannya. Bahkan dia meminta pengusaha itu menyokong sejumlah kegiatan organisasi.

"Kesalahan saya karena saya menganggap pak Kotjo teman, satu tim, bukan orang lain sehingga kalau ada kebutuhan yang mendesak saya menghubungi beliau untuk membantu sponsor kegiatan organisasi, kegiatan umat maupun kebutuhan pribadi, dan pak Kotjo pun membantu karena mungkin beliau beranggapan yang sama kepada saya," tulis Eni. (ctr)


BACA JUGA