2 SMU Bantah Istilah Honor untuk Penari Ratoh Jaroe

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 19/09/2018 15:45 WIB
2 SMU Bantah Istilah Honor untuk Penari Ratoh Jaroe Pertunjukan tari Ratoh Jaroe di acara pembukaan Asian Games ke 18 pada 2018. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua sekolah di DKI Jakarta yang sejumlah siswanya didapuk menjadi penari Ratoh Jaroe di ajang pembukaan Asian Games 2018 lalu menyangkal ada permasalahan soal honor dari panitia penyelenggara.

Manajemen sekolah membantah ada bayaran untuk para siswa yang terpilih, dan sekolah hanya menyiapkan apresiasi bagi para siswa meski tak semua berbentuk uang tunai.

Wakil Kepala Sekolah SMAN 78 Jakarta Zainuddin beralasan sejak awal mereka tidak pernah diberitahu soal honor bagi para pelajarnya yang ikut dalam pagelaran itu. Menurut dia, seluruh uang diberikan dari panitia penyelenggara Asian Games 2018, INASGOC melalui lembaga bernama Lima Arus merupakan duit operasional.


Anggaran itu yang diberikan ke sekolah agar dikelola guna membiayai keperluan latihan menari para siswa.

"Sekolah diberi otoritas untuk mengelola untuk konsumsi, tranportasi, sopir bus, obat-obatan, termasuk ongkos pendamping. Tidak ada kata-kata harus diberi honor," kata Zainuddin di kantornya di Kemanggisan, Jakarta Barat, Rabu (19/9).


Zainuddin menduga pembicaraan soal honor itu muncul karena ada interaksi antara murid dengan penari lain yang berasal dari lingkungan non-sekolah.

"Mungkin di sana mereka bertemu dengan penari profesional dan semacamnya sehingga dapat cerita honor itu," katanya.

Menurut Zainuddin, sekolahnya bahkan sempat merogoh kocek sendiri buat membiayai latihan para siswa ketika masih dilakukan di lingkungan sekolah.

Dari tiga termin dana yang dikirim oleh panitia, dua di antaranya sudah dipakai untuk seluruh rangkaian latihan dan acara. Sementara dana termin ketiga baru masuk ke rekening sekolah pada Selasa (18/9) kemarin.

Uang termin ketiga ini yang menurut Zainuddin akan mereka pakai guna memberi penghargaan siswa-siswi yang berperan sebagai penampil di pembukaan Asian Games 2018.

"Jadi sekarang lagi proses pencairan untuk apresiasi anak-anak," ujar Zainuddin.

Keterangan serupa disampaikan oleh Wakil Kepala Sekolah SMAN 23 Jakarta Edi Susilo. Edi menekankan sejak dihubungi oleh panitia tak ada istilah honor yang dijanjikan untuk para siswa. Hal itu pun, kata Edi juga tertuang dalam perjanjian antara panitia dengan sekolah dan panitia dengan siswa.

"Semua perjanjian dipegang oleh Lima Arus. Dalam perjanjian itu enggak disebut honor, tapi semua transportasi, konsumsi, dan lain-lain ditanggung mereka," kata Edi di kantornya.

Kecuali uang termin ketiga yang diakui oleh Edi baru masuk ke rekening sekolah kemarin malam. Dana untuk dua termin sebelumnya sudah sekolah habiskan untuk operasional latihan para muridnya.

Direktur Pembukaan dan Penutupan Asian Games 2018, Herty Purba sebelumnya mengungkapkan masing-masing sekolah mengirimkan jumlah siswa-siswi yang berbeda sesuai dengan hasil seleksi yang dilakukan. Sekolah bertugas untuk mengelola dana yang diberikan untuk menyiapkan kebutuhan mulai dari konsumsi, bus dan lainnya.

"Benar, per hari kami berikan honor US$15 yang per orang selama 15 hari latihan. Itu yang kami kirimkan sesuai jumlah siswa-siswi di masing-masing sekolah. Pengelolaan dananya kami kembalikan lagi ke kebijakan masing-masing sekolah," jelas Herty pada Selasa.
Opsi Apresiasi untuk Murid

Murid-murid dari SMAN 78 Jakarta dan SMAN 23 Jakarta sebelumnya mengeluhkan honor mereka yang tak kunjung datang. Padahal acara yang mereka dukung itu telah berlalu sejak sebulan lalu.

INASGOC selaku panitia acara mengaku telah menyelesaikan tiga termin pembayaran honor penari Ratoh Jaroe dari 18 SMA di Jakarta pada Senin (17/9). Pembayaran diberikan INASGOC langsung kepada pihak sekolah untuk dikelola operasionalnya.

Dana yang diberikan panitia untuk per orang per hari latihan sebesar US$15 atau Rp223 ribu per hari. Dengan total latihan yang dihitung oleh panitia mencapai 15 kali, jumlah uang yang berhak diperoleh penari sekitar Rp3,3 juta. INASGOC melunasi pembayaran ini dalam tiga termin.

Zainuddin menyatakan sekolahnya sudah berencana menggunakan uang transfer termin terakhir buat mengapresiasi siswa-siswinya. Namun, mereka menghindari pemberian uang tunai karena dianggap tidak mendidik.

Sebagai gantinya sekolah menawarkan apresiasi dalam beberapa opsi yakni membuat jaket, tas pinggang, makan bersama, atau jalan-jalan.

"Saya akui agak memaksa membuat jaket supaya mereka punya kenang-kenangan, sebab kalau uang kan pasti habis," ucap Zainuddin.

Sementara SMAN 23 lebih lentur dalam merencanakan bentuk apresiasi dengan menuruti keinginan muridnya. Setelah mendengar keinginan para murid yang berpartisipasi di pembukaan Asian Games 2018, sekolah memutuskan akan memberikan uang tunai.

"Kami sebenarnya menawarkan ke siswa untuk bikin jaket, jalan-jalan, atau terserah keinginan mereka, tapi mereka ternyata ingin uang tunai. Jadi Insyaallah kita akan berikan tunai kalau enggak ada perubahan," ucap Edi.

Edi menjelaskan keputusan itu diambil karena kebanyakan siswa-siswi di SMAN 23 banyak berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Alhasil sekolah merasa wajar para murid berharap memilih uang tunai demi kebutuhan masing-masing. SMAN 23 berjanji menyalurkan uang apresiasi pada pekan ini.

"Kalau saya sih wajar anak-anak mengharapkan, sudah sebulan juga soalnya," kata Edi. (ayp)