"Sebagai pribadi, saya dan pak Jokowi itu sangat dekat. Saya kenal Pak Jokowi itu sejak beliau menjadi Wali Kota Solo," kata Zul di Istana Negara, Rabu (19/9).
Zul menuturkan kedekatan itu bahkan berlanjut tahun-tahun berikutnya ketika Jokowi terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 2012.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia bersama Sitti Rohmi Djalilah merupakan kepala daerah yang diusung Partai Demokrat dan PKS, pengusung pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno untuk Pilpres 2019.
"Saya kira ini masalah sangat sensitif. Kami berterima kasih kepada kedua kandidat yang ingin memaknai proses politik ini tentu dengan menikmati demokrasi," ucapnya.
Hal serupa juga dilakukan pendahulunya Tuan Guru Haji (TGH) Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang yang keluar dari Demokrat dan siap memenangkan Jokowi dua periode.
Zul menyadari Jokowi juga bolak balik ke NTB pasca gempa guna meninjau langsung penanggulangan bencana dan pemberian bantuan kepada masyarakat.
Oleh sebab itu, Zul lebih memilih tak menjadi anggota tim pemenangan Prabowo atau Jokowi dalam Pilpres mendatang demi rehabilitasi dan rekonstruksi NTB yang lebih baik.
"Sebagai gubenur kami tidak punya kemewahan membuat penderitaan ini terporak-porandakan perbedaan politik. Oleh karena itu, jangan sampai nanti saya datang sebagai tim sukses, tentu saya akan menciderai keinginan masyarakat," tutur mantan Anggota Komisi XI DPR ini.
Dia menegaskan akan berada di tengah, dan tidak akan masuk timses manapun.
"Mudah-mudahan ini akan menaungi masyarakat, Mudah-mudahan dengan tidak menjadi timses manapun akan menentramkan NTB tidak hanyut dalam gejolak politik yang lagi hangat," kata Zul.