Rizal Ramli: Sudah Saatnya Jokowi Ganti Enggar

Tim CNN Indonesia, CNN Indonesia | Kamis, 20/09/2018 16:56 WIB
Rizal Ramli: Sudah Saatnya Jokowi Ganti Enggar Rizal Ramli mengungkapkan kebijakan yang dibuat Menteri Perdagangan Enggartiasto tidak sejalan dengan kondisi kebutuhan beras yang ada di Perum Bulog. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Menteri Koordinator bidang Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli meminta Presiden Joko Widodo mengganti Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita yang ingin tetap mengimpor beras tahun ini.

Menurutnya, kebijakan yang dibuat Enggar tidak sejalan dengan kondisi kebutuhan beras yang ada di Perum Bulog.

"Saya imbau kepada Presiden Jokowi untuk bersikap. Udah jelas kok posisinya, angkanya ada. Enggak bisa biarkan Enggar kayak gini, petentengan kayak gini. Udah waktunya diganti," ujar Rizal dalam sebuah diskusi yan digelar di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (20/9).


Rizal mengaku tidak sepakat dengan alasan impor beras dilakukan karena harag beras naik akibat ketersediaan beras dalam kurun waktu beberapa bulan ke depan menipis. Ia berkata hal tersebut merupakan rekayasa agar impor beras terlaksana.


Sebab, ia menyebut stok beras yang ada di Perum Bulog dan kondisi cuaca yang lebih banyak hujan justru membuat stok beras terbilang aman.

"Jadi kadang-kadang permainan ini canggih, merekayasa supaya seolah-olah ada kelangkaan buatan, bukan kelangkaan yang sesungguhnya. Kalau kelangkaan yang sesungguhnya saya setuju impor," ujarnya.

Rizal Ramli:Presiden Jokowi Sudah Waktunya Ganti EnggarMenteri perdagangan Enggartiasto ngotot untuk tetap lakukan impor beras. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Di sisi lain, Rizal membeberkan pengalamannya sebagai Ketua Bulog di zaman Presiden Abdurrahman Wahid alias Gusdur. Kala itu, ia mengaku tidak penah melakukan impor beras untuk menurunkan harga beras yang naik di pasaran.

"Waktu saya Kepala Bolug, kami tidak pernah impor beras dan harga bisa stabil," ujar Rizal.


Untuk menstabilkan harga, Razal mengaku hanya meminta setiap pasar induk di seluruh Indonesia melaporkan harga beras setiap hari. Informasi itu, klaim dia, disimpan dalam aplikasi khusus.

Jika dalam aplikasi tersebut memperlihatkan kenaikan harga di salah satu pasar induk, ia mengaku langsung memerintahkan Kepala Bulog regional di kawasan pasar induk tersebut untuk mengluarkan stok berasnya dalam jumlah yang sangat banyak

"Begitu naik Rp50 di komputer saya naik kuning warnanya, begitu naik Rp100 menjadi merah. Saya langsung telepon Kabulog, misalnya Jawa Timur. 'Mas, kok naik di atas Rp100 ada apa? Wah ada pedagang beras yang main di sini Pak. Yaudah banjirin 100 ribu ton dua minggu. Pengen tau jagoan mana," ujarnya.


Dengan pola seperti itu, ia mengaku kartel beras yang membuat harga beras di daerah tersebut menjadi kewalahan. Para kartel, kata dia, terpaksa menjual berasnya sesuai harga Bulog agar beras miliknya laku terjual untuk menutupi biaya sewa gudang dan sebagainya.

"Kebanyakan itu menyerah karena kejadian kenaikan itu tidak semua kota, kan satu-satu. Kita kepluk aja dengan pasok yang lebih banyak mereka ngga akan tahan ya bayar bunga, gudang dan sebaginya. Akirnya ikutin harganya bulog," ujar Rizal.

(jps/DAL)