Fadli Zon Akan Polisikan Balik Kader PSI soal Laporan Lagu

Tim CNNIndonesia, CNN Indonesia | Selasa, 25/09/2018 17:16 WIB
Fadli Zon membandingkan era SBY yang juga banyak kritik atau sindiran serupa bahkan lebih tajam, namun tidak ada langkah pemolisian seperti yang dilakukan PSI. Waketum Gerindra nilai laporan PSI ke polisi memasung kebebasan ekpresi pribadi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon berencana mempolisikan balik kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Rian Ernest yang melaporkan dirinya ke Bareskrim Polri terkait unggahan video 'Potong Bebek Angsa PKI'.

"Ya saya polisikan balik, sederhana saja. Kreativitas itu tidak bisa di-judge atau dihakimi seperti itu, apalagi ini masalah sederhana," kata Fadli di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (25/9).

Fadli mengatakan pelaporan ini sama seperti rencana pelaporan terhadap seorang mahasiswa yang menirukan suara Presiden Joko Widodo. Menurutnya, hal ini hanya sebatas kreativitas mengkritik dalam bentuk parodi.



Wakil Ketua DPR ini lantas membandingkan dengan era Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga banyak kritik atau sindiran serupa bahkan lebih tajam, namun tidak ada langkah melapor ke polisi.

"Itu lah demokrasi, itu bagian dari sebuah cara mengkritik tapi juga tidak langsung melalui sebuah seni," katanya.

Fadli sebelumnya mengunggah video 'Potong Bebek Angsa PKI' di media sosial Twitter.

Dalam video tersebut, tiga pria dan enam perempuan tampak berjoget diiringi lagu yang berisi sindiran politik. Lagu 'Potong Bebek Angsa' itu diubah liriknya menjadi sarat politik jelang pilpres 2019.


Secara keseluruhan, lagu memuat lirik berisi sindiran kepada lawan politik pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Melihat itu Rian Ernest kemudian membuat laporan polisi karena menganggap video yang diunggah Fadli berpotensi menimbulkan keresahan, ketidakpercayaan kepada pemerintah dan alat negara, serta keonaran dan perpecahan.

Bahkan, menurutnya video yang menampilkan tiga orang pria dan enam orang perempuan berhijab dengan memakai seragam biru dan hitam serta topeng penguin tersebut berpotensi menimbulkan pertikaian horizontal.

(swo/DAL)