Sementara, 14 persen responden bersikap netral terhadap gerakan tersebut dan enam persen lainnya tidak menjawab.
"Mayoritas warga sudah tahu tentang gerakan #2019GantiPresiden 60 persen, di antara yang tahu sekitar 36 persen setuju, 44 persen tidak setuju, 14 persen netral dan selebihnya tidak bersikap," terang Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, di Cikini, Jakarta, Rabu (26/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekitar 34 persen warga yang tahu menilai bahwa gerakan tersebut termasuk pelanggaran Pemilu, curi start, padahal masa kampanye belum dimulai, dan 23 persen selebihnya tidak bersikap," lanjut Burhanuddin.
Namun demikian, Mardani mengaku tidak bisa mengarahkan massa gerakannya untuk mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Sebab, #2019GantiPresiden adalah gerakan sosial.
"Gerakan 2019 Ganti Presiden sudah jadi gerakan sosial ya, saya mau mengarahkan ke kiri atau kanan belum tentu ikut, karena kesatuan mereka bukan kesatuan dengan saya," terangnya.
"Hashtag itu ada gagasannya, ingin mengganti Pak Jokowi sehingga semestinya lebih mudah. Tapi hasil survei kami belum nyampe semuanya masuk ke Prabowo-Sandi. Harus kerja keras," terang dia.
Diketahui, survei Indikator dilakukan pada 1-6 September 2018 dengan jumlah responden 1.220 orang. Survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error +/- 2,9 persen.
(sah/arh)