Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono menilai rencana perluasan integrasi moda transportasi lewat perombakan OK Otrip harus segera dilakukan.
"Baguslah, karena arahnya memang harus ke sana," kata Gembong saat dihubungi melalui telepon, Selasa (2/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"PDIP bahkan mendukung itu jadi prioritas agar Pemprov lakukan integrasi moda transportasi," imbuh Gembong.
Anies berkeinginan program pengganti OK Otrip nanti juga mengintegrasikan layanan transportasi di samping angkot, seperti MRT dan LRT. Kendati demikian Anies belum mengantongi nama baru untuk pengganti OK Otrip tersebut.
Gembong mendorong rencana itu karena ia melihat OK Otrip sebagai program gagal. Dari target 2.000 angkutan yang bergabung di akhir tahun, baru ada 200 yang dicatat oleh Gembong.
"Di satu sisi pengusaha harus melangsungkan hidupnya, di sisi lain, Keinginan itu dalam rangka mempertahankan eksistensi. Di sisi masyarakat mendapatkan alat transportasi yang baik dengan harga terjangkau," katanya.
Gembong mengapresiasi evaluasi dan rencana rebranding Pemprov DKI Jakarta untuk OK Otrip. Ia berkata sudah waktunya Pemprov menawarkan solusi transportasi baru untuk warga Jakarta.
OK Otrip adalah program gagasan Anies-Sandi untuk mengintegrasikan transportasi di Jakarta. Dengan membayar Rp5 ribu, warga bisa menggunakan tiga moda transportasi berbeda dalam rentang waktu tiga jam.
Sebelumnya, uji coba OK Otrip sudah diterapkan sejak Februari hingga April 2018. Program ini lalu diperpanjang hingga 15 Juli. Perpanjangan kembali dilakukan setelahnya sampai 30 September 2018.