Ia mengatakan bahwa para penyebar hoaks di Pilpres 2019 harus ditindak tegas oleh aparat kepolisian, tak terkecuali kasus yang menimpa Ratna Sarumpaet.
"Ya, harus ditindak, dan yang menindak adalah penegak hukum yang memiliki otoritas," kata Ma'ruf saat ditemui di salah satu rumah makan di wilayah Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (3/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ma'ruf mengatakan bahwa hoaks adalah musuh bersama yang dapat mengancam persatuan bangsa. Oleh karena itu, ia berpesan bahwa setiap kelompok yang menyebarkan hoaks harus diusut dan ditindak tegas oleh kepolisian.
"Ya itu kita serahkan pada pihak yang punya kompetensi soal yang bagaimana menangani hoaks-hoaks itu," ujarnya.
Kepada wartawan dalam jumpa pers di bilangan Tebet, Jakarta, Selatan, Ratna mengatakan dirinya membiarkan kebohongan itu dan berpikir untuk mengembangkan cerita bohong tentang penganiayaan itu.
"Saya terus mengembangkan ide pemukulan itu dengan beberapa cerita," kata Ratna.
Ratna akhirnya menyadari kesalahannya. Dia lantas meminta maaf kepada pihak-pihak yang telah ia bohongi, termasuk kepada Prabowo Subianto, Amien Rais, dan Fadli Zon.
[Gambas:Twitter]
Di akun twitternya, Rachel mengaku telah bersikap reaktif dan emosional saat pertama kali mendengar kabar penganiayaan yang dialami Ratna Sarumpaet.
"Saya secara pribadi menyatakan permohonan maaf yang sebesar-besarnya pada netizen...Sama sekali saya tidak menyangka kalau semua ini adalah kebohongan," tulis Rachel di akun twitternya. (rzr/wis)