Analisis

Santri di Bayang-bayang Komoditas Pilpres 2019

jps & Tim, CNN Indonesia | Kamis, 11/10/2018 08:08 WIB
Santri di Bayang-bayang Komoditas Pilpres 2019 Suasana di salah satu masjid di pondok pesantren di daerah Medan, Sumatera Utara beberapa waktu lalu saat pelaksanaan ibadah salat berjemaah. (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masa kampanye Pilpres 2019 telah berlangsung sejak 23 September 2018. Dua pasangan calon yakni nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pun kian gencar mencari dukungan.

Salah satu basis elektoral yang disasar dua pasangan calon tersebut adalah kelompok santri. Upaya mendapat dukungan itu dilakukan lewat safari para calon ke pondok pesantren di beberapa daerah, terutama Jawa Tengah.

Kunjungan ke pesantren yang semula dinilai biasa saat masa kampanye itu kemudian menjadi polemik saat Komisi Pemilihan Umum (KPU) menegaskan larangan kampanye di tempat pendidikan dan ibadah termasuk pula untuk di pesantren. Namun, kedua paslon berdalih kedatangan mereka ke pesantren adalah silaturahmi karena rumah sang kiai pun umumnya berada di sana.



Dosen Ilmu Politik dan Pemerintahan UGM, Mada Sukmajati menuturkan perkembangan zaman telah membuat santri tak lagi menjadi komoditas, justru sebaliknya. Seiring melek demokrasi pascareformasi di kalangan masyarakat, Mada melihat santri telah menjadikan para kandidat dan elite politik sebagai komoditas yang diharapkan dapat membuat kebijakan yang pro terhadap mereka.

Mada menerangkan santri dapat diartikan dalam dua sudut pandang baik secara sempit, maupun luas. Santri dalam artian sempit, kata Mada, adalah mereka yang menggunakan simbol kultural seperti mengenakan peci, songkok, atau sarung. Santri dengan ciri tersebut dikenal erat sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama (NU).

"Bila santri didefinisikan longgar termasuk di dalamnya adalah mereka yang terbuka, tidak selalu dalam konteks tradisional artinya sampai ke modern dan seterusnya itu kan bisa juga mengarah ke Muhammadiyah," ujar Mada.

Santri sendiri secara harafiah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai orang yang mendalami agama Islam atau yang beribadah sungguh-sungguh.

Calon Presiden no urut 2 Prabowo Subianto (kanan) berbincang dengan Kyai Maimoen Zubair (kiri) saat mengunjungi pondok pesantren Al-Anwar di Sarang, Rembang, Jawa Tengah, 29 September 2018. (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)


Budaya Sami'na Wa Atho'na

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lili Romli mengatakan santri memiliki peran penting untuk menambah elektoral, terutama bagi kubu petahana Jokowi-Ma'ruf.

Selain karena pemerintahan Jokowi telah menetapkan Hari Santri Nasional, Mada pun menilai posisi Ma'ruf sebagai kiai NU tak bisa dipinggirkan. Apalagi, Ma'ruf bukan sekedar kiai atau ulama, karena dia adalah Rais Aam PBNU yang kemudian mundur setelah resmi ditetapkan sebagai cawapres oleh KPU.

"Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya (santri) menjadi pendukung atau komoditas. Sekarang akan berperan signifikan karena ketua santrinya itu cawapres," ujar Lili kepada CNNIndonesia.com.


Lili menuturkan pola hubungan yang terjadi di pesantren bersifat patron klien. Sehingga, santri akan mengikuti pilihan politik yang ditentukan para kiainya.

"Jadi ketika ketua santrinya nyalon, maka santri-santrinya akan ikut. Ya, tentu saja mereka akan memperjuangkan para santrinya dan santrinya juga akan berjuang sekuat tenaga memenangkan kiainya," ujarnya.

Pengamat politik dari Universitas Padjajaran Idil Akbar pun menilai pengaruh kiai bisa berdampak pada pilihan santri. Serupa pendapat Lili, Idil mengatakan budaya hubungan antara santri dan kiai yang bersifat sami'na wa atho'na

"Kalau kiainya sudah menentukan pilihan bisa dipastikan santri itu juga akan ikut. Makanya itu sangat besar [pengaruh kiainya]," ujar Idil kepada CNNIndonesia.com.

Calon wakil presiden nomor urut 01, Ma'ruf Amin adalah salah satu kiai yang berpengaruh di NU. Ia berhenti dari jabatan Rais Aam PBNU usai ditetapkan sebagai cawapres oleh KPU. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)


Idil menuturkan dukungan santri menjadi besar tergantung dari asal santri itu bernaung, misalkan dari NU atau Muhammadiyah. Kedua basis itu merupakan ladang suara jika bisa dikuasai.

Lebih dari itu, ia menilai suara santri bukan hanya menguntungkan kubu Jokowi-Ma'ruf. Idil menilai Prabowo-Sandiaga bisa mendapat dukungan jika mampu melakukan pendekatan, misalkan menempatkan santri atau tokoh pesantren di posisi yang strategis.

Dan, untuk menekan pengaruh Prabowo-Sandiaga terhadap kelompok santri, hal yang perlu dipertahankan Ma'ruf adalah menjaga dengan terus berkunjung atau bersilaturahmi ke pondok-pondok pesantren.

"Bukan pencitraan, itu menyapa santri-santrinya itu. Kalau cawapres tidak mendekati santrinya bisa kemudian itu nantinya direbut oleh lawan," ujar Lili.

Di sisi lain, Lili berharap dukungan santri tidak menimbulkan dikotomi politik aliran, terutama santri yang dikategorikan Islam kultural melawan Islam moderat. Sebab, ia khawatir bangsa akan terpecah jika ada dikotomi tersebut.

Sementara itu, dil meyakini dikotomi politik aliran tidak akan terjadi. Ia melihat santri hanya sebatas pada ruang elektoral.

Di satu sisi, Mada enggan memastikan dukungan santri dapat melawan kelompok Islam moderat yang ada di Indonesia. Sejauh ini dia mengaku belum mendapati survei yang menunjukkan arah dukungan dari kedua kelompok tersebut.

Jika hal tersebut ada, ia menilai politik aliran masih relevan atau makin menguat di Indonesia.

"Saya tidak tahu apakah Pilpres nanti justru akan mempertajam polarisasi politik aliran yang sebenarnya sudah dianggap oleh sebagian orang tidak bisa lagi menjelaskan politik Indonesia," ujarnya.

(kid)