Jokowi: Jangan Banyak Komentar tapi Tak Tahu Kondisi Sulteng

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 10/10/2018 18:14 WIB
Jokowi: Jangan Banyak Komentar tapi Tak Tahu Kondisi Sulteng Presiden Joko Widodo. (CNN Indonesia/Christie Stefanie).
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo meminta masyarakat serta seluruh pihak mengerti kondisi lapangan pasca gempa dan tsunami di Palu-Donggala, Sulawesi Tengah. Menurut dia, membuat keadaan normal kembali usai bencana memerlukan waktu.

Karenanya, dia tidak menginginkan banyak yang berkomentar, tetapi tidak tahu kondisi lapangannya seperti apa.

"Gempa seperti ini memerlukan waktu untuk masuk dan normal kembali. Jangan sampai banyak yang berkomentar tapi enggak ngerti di lapangan," kata Jokowi di Pondok Gede, Rabu (10/10).


Jokowi menambahkan penanggulangan di Sulteng terus dilakukan pemerintah pusat bersama daerah. Kondisi sesungguhnya di lapangan tentu tak semudah yang dibayangkan.

"Jangan mendesak-mendesak, ini mendesak, kondisi lapangan berbeda dengan yang kita bayangkan," ucap dia.

Ia mengakui penanggulangan dan penanganan bencana belum maksimal, terutama dari pemerintah daerah serta pemerintah provinsi.

Jokowi mengingatkan jajaran pemerintah daerah, provinsi, termasuk kepolisian di Sulteng untuk tetap bekerja maksimal terhadap penanganan korban bencana alam yang sudah menewaskan 2.010 jiwa itu.

Banyak juga keluarga jajaran pemda maupun kepolisian dan TNI yang kehilangan keluarganya, sehingga membuat mereka drop secara psikologi.

"Pelayanan belum maksimal iya, karena juga banyak keluarga mereka jadi korban. Kepolisian Palu semangat di awal, drop karena lebih dari 200 terseret tsunami dan baru ketemu 30," kata dia.

Jokowi juga menjelaskan perkembangan terkini penanganan seperti listrik yang sudah beroperasi 70 persen, dari sebelumnya hanya dua gardu yang beroperasi. BBM pun masuk dan mulai memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Saya kira kecepatan seperti itu harus kita apresiasi yang mengerjakan di lapangan, mengoperasikan lagi tiang roboh, membetulkan kabel yang terputus, kerja berat tanpa peralatan memadai karena memang dikerjakan manual," tuturnya. (osc)