"Pemerintah Provinsi Sulteng sudah berkoordinasi dengan Pemkot Palu dan Pemda Sigi dan Donggala terkait lahan huntara bagi korban yang kehilangan rumah," ujar Sutopo dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Kamis (11/10).
Ia menjelaskan bahwa huntara diberikan sambil menunggu hunian tetap. Hunian yang disebutnya lebih nyaman daripada tenda atau barak ini bisa ditempati satu kepala keluarga atau lebih, tergantung desain dan keinginan para korban. Biaya pembangunan biasanya memerlukan dana RP8-15 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk pembangunan huntara akan selesai dua bulan, dilakukan oleh Kementerian PU Pera. Dunia usaha, pemda, dan NGO dapat menyumbang pembangunan huntara," ujar dia.
Sementara, kata Sutopo, penyelesaian huntap butuh waktu sekitar 1-2 tahun. Sebab, pemerintah harus memastikan bahwa daerah relokasi itu adalah wilayah yang aman dari bencana dan desain rumahnya tahan gempa.
Sejauh ini, BNPB mencatat bahwa akibat gempa yang terjadi pada Jumat (28/9) lalu sebanyak 67.310 unit rumah, tersebar di Kota Palu sebanyak 65.733 unit, di Kabupaten Sigi 879 unit, dan di Kabupaten Donggala 680 unit rusak. Masyarakat yang mengungsi terdata sekitar 87 ribu orang, dengan korban meninggal sudah mencapai 2.073 orang.