Ugal-ugalan Versi Gerindra: Kisruh Harga BBM dan Impor Beras

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 18/10/2018 07:51 WIB
Ugal-ugalan Versi Gerindra: Kisruh Harga BBM dan Impor Beras Politikus Gerindra Ahmad Riza Patria. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ditundanya kenaikan harga bahan bakar minyak jenis premium hanya dalam hitungan jam setelah pengumuman kenaikan dinilai Gerindra contoh pengelolaan negara secara ugal-ugalan di era Joko Widodo. Selain itu, partai pengusung Prabowo Subianto di Pilpres 2019 ini menyebut koordinasi antarlembaga negara adalah contoh ugal-ugalan itu.

"Bagaimana enggak ugal-ugalan, hari ini umumkan harga BBM naik kemudian diturunkan lagi," kata Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria di kantor KPU, Jakarta, Rabu (17/10).

Istilah ugal-ugalan dikeluarkan Prabowo yang jadi pesaing Jokowi di Pilpres 2019 untuk menggambarkan pengelolaan negara dalam empat tahun terakhir.

Riza menyebut kata ugal-ugalan digunakan karena memang berarti tak terkendali atau tak tertib.


"Kan tidak terkendali, ke kanan dan kiri, tak tertib, tak sesuai aturan." ujar Riza.

Diketahui, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sempat berbeda pendapat dengan Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Budi Waseso atau Buwas. Menurut Buwas, stok beras di dalam negeri cukup, sehingga tidak perlu impor. Pernyataan terbalik diutarakan Enggar.
Ugal-ugalan Versi Gerindra: Kisruh Harga BBM dan Impor BerasGerindra mencontohkan penundaan kenaikan harga BBM jadi salah satu contoh pengelolaan ekonomi secara ugal-ugalan. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Riza kemudian menyinggung kondisi ekonomi Indonesia. Dia mengatakan bahwa pemerintah mengklaim ekonomi tumbuh meroket. Sementara kenyataannya, kata Riza, ambruk.

Riza mengatakan pemerintahan Jokowi juga tidak sanggup memenuhi janjinya soal 10 juta tenaga kerja Indonesia. Menurutnya, saat ini justru malah banyak tenaga kerja dari Tiongkok yang datang ke Indonesia.

Ia menyarankan agar pemerintahan Jokowi terbuka kepada masyarakat yakni mengakui tidak mampu memenuhi janji-janjinya.

"Kalau ada janji yag disampaikan tak bisa dipenuhi ya minta maaf lebih baik dan bijaksana," kata Riza.

Menurut Riza, hal itu perlu dilakukan. Kemudian, pemerintah introspeksi diri lalu memperbaiki kekurangan. 

"Bukan malah bertahan dan merasa paling bisa. Akhirnya kan hasilnya begini, semua harga naik, barang, tol dan lain-lain Itu kan berarti bentuk ketidakmampuan pemerintah," ucap Riza.

Sebelumnya, calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyatakan bahwa mimpi mengembalikan kejayaan Indonesia di masa silam menjadi luntur karena negara dikelola secara ugal-ugalan dalam empat tahun terakhir. 

"Perlahan-lahan mimpi untuk mengembalikan kejayaan Indonesia luntur oleh cara ugal-ugalan dalam mengelola negara," tutur Prabowo melalui akun facebook resminya, Selasa (16/10).

Menurut Prabowo, dalam empat tahun ke belakang, sebuah keputusan dapat dengan mudah dibatalkan atau direvisi tanpa memikirkan dampak yang dirasakan masyarakat di lapisan bawah. Prabowo mengatakan hukum juga menjadi alat tawar menawar politik dan mengabaikan keadilan.

"Dan kita terus menyaksikan bagaimana riuhnya kabinet kerja, akibat saling tuding antar kementrian dan lembaga negara," ujar Prabowo.
Ugal-ugalan Versi Gerindra: Kisruh Harga BBM dan Impor BerasDirut Perum Bulog Budi Waseso. Kisruh impor beras yang memicu perbedaan pendapat antara Bulog dengan Kemendag juga jadi sorotan Gerindra. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Sementara itu Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Hasto Kristiyanto menganggap santai tudingan Prabowo yang mengatakan pemerintah ugal-ugalan mengelola negara.

Menurut dia, Jokowi selalu bekerja untuk masyarakat dan bangsa ketimbang Prabowo yang mudah percaya pada kabar bohong Ratna Sarumpaet.

Sekjen PDIP itu justru menuding balik bahwa Prabowo-lah yang memiliki karakter pemimpin ugal-ugalan dalam bersikap. Ia menyebut Prabowo tak melakukan klarifikasi terlebih dulu terkait kasus Ratna dan langsung mempercayai kabar hoaks tersebut.

Sikap Prabowo yang percaya hoaks itu, kata Hasto, menunjukkan bahwa kepemimpinan mantan Danjen Kopassus itu patut dipertanyakan.

"Ya akhirnya masyarakat menilai seperti itu, pemimpin yang menyampaikan kepada publik harus dilihat implikasinya, dampaknya, kulturnya," kata Hasto.

Hasto pun mempertanyakan motif Prabowo menyebut pemerintah Jokowi ugal-ugalan dalam mengelola negara. Selama empat tahun menjadi Presiden, kata dia, Jokowi mampu memperlihatkan kelasnya sebagai pemimpin terbaik dunia.

Ia mencontohkan acara internasional sekelas Asian Games, Asian Para Games dan IMF-World Bank Forum menjadi salah satu indikator keberhasilan Jokowi di mata dunia. Tak hanya itu, Jokowi berhasil 'merebut' Blok Rokan dan Freeport Indonesia ke pangkuan Ibu Pertiwi sebagai tanda kedaulatan di bidang energi. (bmw/sur)