Tim Jokowi Tak Mau Ladeni Isu Receh Macam Tempe Setipis ATM

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 23/10/2018 11:47 WIB
Tim Jokowi Tak Mau Ladeni Isu Receh Macam Tempe Setipis ATM Politikus PDIP Budiman Sudjatmiko diperintahkan untuk tak agresif dan tak mengikuti "isu-isu recehan" jelang Pilpres 2019 namun tetap proaktif.. (Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Politikus PDI-Perjuangan Budiman Sudjatmiko mengatakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin diperintahkan untuk tak agresif dan tak mengikuti "isu-isu recehan" jelang Pilpres 2019.

"Pak Jokowi menekankan kami perlu proaktif, bukan agresif. Proaktif berbicara yang sudah dilakukan dan yang akan dicapai," kata Budiman di Hotel Santika, Bogor, Senin (22/10).

"Itu konsekuensi petahana. Kami menjelaskan yang dipermasalahkan," imbuh dia, yang juga anggota influencer TKN Jokowi-Ma'ruf Amin ini.


Hal ini disampaikan usai rapat juru bicara serta influencer TKN bersama Jokowi kemarin. Komunikasi politik dan bermasyarakat menjadi hal utama yang dibahas dalam rapat itu.

TKN, kata Budiman, akan fokus membantu Jokowi mengabarkan capaian kinerja pemerintahan Jokowi selama ini seperti infrastruktur, KIP, KIS, dana desa, pariwisata, dan sertifikat tanah.

Ia menyatakan TKN tidak akan menggunakan isu-isu asal, kebohongan, dan personal dalam berkampanye. TKN hanya akan menanggapi santai serangan-serangan dari pendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Jadi tidak perlu mengikuti semua isu-isu recehan, [seperti] tempe setipis ATM. Itu dibikin guyon saja karena orang juga tahu itu tidak serius," kata mantan aktivis ini.

Ia mencontohkan kritikan oposisi terhadap kebijakan pemerintah mencairkan dana kelurahan tahun depan. Istana menyatakan kebijakan ini diperlukan atas laporan kesenjangan kota dan desa yang menerima dana desa sejak 2015.

Di sisi lain, oposisi menilai kebijakan itu bermotif politik. Pencairan tahun depan dinilai dapat memengaruhi perolehan suara Pilpres 2019.

"Itu sebuah bentuk inisiatif isu dan kemudian oposisi juga dalam keadaan tidak tahu bagaimana menyikapinya menolak atau menerima karena keduanya sama-sama tidak memberikan keuntungan politik bagi mereka," kata Budiman.

Ia juga mencontohkan isu agama seperti Jokowi anti-Islam yang selama ini beredar. Menurutnya, banyak santri menyukai Jokowi. Hal itu terlihat sedari awal Presiden berkunjung ke pondok pesantren.

"Kami justru ingin meluruskan beragama itu. Yang di pesantren santai-santai saja dengan Jokowi. Jadi sebenarnya itu gimmick yang dimainkan mereka," tutur Budiman.
(chri/arh)