Tiba Besok, AS dan Boeing Bantu Evakuasi Lion Air JT-610

CNN Indonesia | Selasa, 30/10/2018 19:26 WIB
Tiba Besok, AS dan Boeing Bantu Evakuasi Lion Air JT-610 Proses pencarian dan evakuasi Lion Air JT-610. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat menjadi satu dari sekian negara yang menawarkan bantuan untuk Indonesia dalam proses pencarian dan evakuasi kecelakaan pesawat Lion Air JT-610. AS juga dikabarkan bakal memboyong personel Boeing selaku produsen pesawat nahas tersebut.

"Mereka membawa bantuan yang akan datang kurang lebih hari Rabu," kata investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ony Suryo Wibowo di kantor KNKT, Jakarta, Selasa (30/10).

Ony mengatakan personel yang akan tiba di Indonesia berkisar 10 orang. Pihak Boeing yang ikut dalam rombongan merupakan teknisi pesawat.


Perlu diketahui pesawat Lion Air yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, pada Senin (29/10) pagi lalu itu merupakan jenis Boeing 737-300 MAX 8. Pesawat tersebut baru dioperasikan oleh Lion Air sejak Agustus 2018.

Kendati akan memberi bantuan ke Indonesia, ada ketentuan administrasi yang harus mereka penuhi. Ony mengatakan pihaknya sudah melayangkan notifikasi kepada Kementerian Luar Negeri terkait kedatangan tim bantuan itu.

"Sementara sudah kita layangkan (ke Kemenlu), masih menunggu respons. Secara prinsip keimigrasian mereka boleh masuk ke Indonesia," tukas Ony.

Amerika Serikat bukan satu-satunya negara yang menawarkan bantuan kepada Indonesia dalam penanganan kecelakaan pesawat ini. Singapura, Australia, Malaysia, Argentina, dan Arab Saudi diklaim juga ingin membantu proses pencarian dan evakuasi pesawat.

Untuk diketahui sampai saat ini, sudah 28 kantong jenazah dikirim ke RS Polri. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri pun akan melakukan proses identifikasi lewat pencocokan data antemortem dari keluarga dengan postmortem yang ada pada tubuh korban.

Pesawat Lion Air JT-610 dipastikan jatuh di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat. Pesawat jenis Boeing 737-300 MAX 8 tersebut terbang dari Bandara Soekarno Hatta pada Senin (29/10) pukul 06.20 WIB menuju Bandara Depati Amir, Pangkalpinang.

Pilot sempat meminta kembali ke landasan sesaat setelah lepas landas. Pilot juga sempat melapor ke ATC Bandara Soetta adanya masalah pada flight control di ketinggian 1.700 kaki dan meminta naik ke ketinggian 5.000 kaki.

Namun pada pukul 06.32 WIB pesawat hilang dari radar dan tak bisa dikontak kembali. 

Pesawat dengan register PK-LQP itu membawa 189 orang, terdiri dari 178 penumpang dewas, satu anak, dan dua bayi, serta delapan awak kabin. Basarnas memprediksi seluruh penumpang dan awak kabin tak ada yang selamat. (bin/osc)