Menurut Budi, keluarga korban dipastikan terguncang atas peristiwa ini. Lion Air, kata Budi, bisa bekerjasama dengan Polri terkait pendampingan bagi keluarga korban.
"Saya juga minta kepada Lion Air bertanggung jawab berikan fasilitas yang baik dan ramah, memberikan semacam satu komunikasi psikologis bersama-sama Polri agar keluarga korban tetap semangat," kata Budi di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (30/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bersama dengan itu juga tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) dan sidik jari sangat penting untuk memberikan suatu dasar bukti bagi Jasa Raharja memberikan asuransi," kata dia.
"Jajaran manajemen Lion Air juga akan melakukan kunjungan ke posko Halim Perdanakusuma, RS Polri, Karawang dan Tanjung Priok," kata Corporate Communications Strategic Lion Air Gorup, Danang Mandala Prihantoro dalam keterangan tertulisnya.
Diketahui sampai saat ini sudah 37 kantong jenazah yang dikirim ke RS Polri dari lokasi evakuasi. Tim DVI Polri akan melakukan proses identifikasi lewat pencocokan data antemortem dari keluarga dengan data postmortem yang ada pada tubuh korban, termasuk melalui sampel DNA.
Pesawat Lion Air JT-610 dipastikan jatuh di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10) pagi. Pesawat jenis Boeing 737-300 MAX 8 tersebut terbang dari Bandara Soekarno Hatta pada pukul 06.20 WIB menuju Bandara Depati Amir, Pangkalpinang.
Namun pada pukul 06.33 WIB, pesawat hilang dari radar dan tak bisa dikontak ATC Bandara Soetta.
Pesawat dengan register PK-LQP itu membawa 189 orang, terdiri dari 178 penumpang tewas, satu anak, dan dua bayi, serta delapan awak kabin. Basarnas memprediksi seluruh penumpang dan awak kabin tak ada yang selamat. (fhr/osc)