TKN: Pemimpin Tidak 'Grasak-grusuk', Sebentar-sebentar Maaf

CNN Indonesia | Rabu, 14/11/2018 14:41 WIB
TKN: Pemimpin Tidak 'Grasak-grusuk', Sebentar-sebentar Maaf Hasto Kristyanto menyoroti seringnya Prabowo-Sandi minta maaf. Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino
Jakarta, CNN Indonesia -- Tim Koalisi Nasional (TKN) Joko Widodo-Maruf Amin menyatakan pemimpin harus hati-hati dalam menyampaikan sikapnya. Hal itu menanggapi pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang sudah tiga kali meminta maaf karena salah berucap dan bertindak selama kampanye Pilpres 2019.

Sekretaris TKN, Hasto Kristiyanto mengatakan kehatian-hatian diperlukan karena pemimpin merupakan panutan rakyat.

"Pemimpin itu tidak grasak-grusuk, tidak sebentar-sebentar minta maaf. Pemimpin harus hati-hati di dalam menyampaikan sikapnya karena itu akan menjadi panutan bagi seluruh masyarakatnya," ujar Hasto di Rumah Cemara, Jakarta, Rabu (14/11).



Hasto menuturkan, setiap pemimpin harus bertanggung jawab dan tidak mudah meminta maaf karena ucapan atau tindakannya yang keliru. Dalam khasanah kepemimpinan Jawa, kata dia, kehati-hatian pemimpin dalam bersikap dikenal dengan sabda pandita ratu.

Berbeda dengan kubu Prabowo-Sandiaga, Hasto mengklaim pihaknya tidak sekadar berkampanye mendulang dukungan. Ia mengatakan, kubu Jokowi-Maruf berkampanye untuk membangun peradaban Indonesia.

Hal itu, kata dia, ditunjukkan lewat ajakan Jokowi kepada semua pihak untuk hijrah dari tindakan negatif ke positif. "Proses hijrah yang telah dicanangkan Jokowi-Maruf Amin itu jadi pedoman kami," ujarnya.


Di sisi lain, politikus PDIP ini mengimbau Prabowo-Sandiaga tidak memanfaatkan kepribadian masyarakat Indonesia yang pemaaf. Ia berkata Prabowo-Sandiaga harus menjadikan kesalahannya sebagai otokritik dalam bersikap ke depan.

"Apa yang terjadai dengan permintaan maaf yang dilakukan berulang kali oleh Pak Prabowo dan Pak Sandi sebaiknya jangan terjadi lagi," ujar Hasto.

Lebih dari itu, Hasto berkata kampanye Pilpres 2019 harus diisi dengan kegembiraan. Ia juga meminta para calon beradu gagasan, rekam jejak, serta program untuk kepentingan bangsa dan negara.


Minta Maaf Bentuk Kerendahan Hati
Terpisah, Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjutkan mengatakan, permintaan maaf yang disampaikan Prabowo-Sandi menunjukkan sikap rendah hati.

Dia menyebut, saat ini Indonesia dipenuhi dengan keangkuhan tanpa ada sikap rendah hati untuk meminta maaf. Menurut Dahnil, justru pasangan Jokowi-Ma'ruf dengan angkuh melakukan pembenaran atas kebohongan-kebohongan yang disampaikan kepada masyarakat.


"Setiap kesalahan yang dilakukan justru dengan angkuh melakukan pembenaran bahkan kebohongan-kebohongan," kata Dahnil kepada CNNIndonesia.com, Rabu (14/11).

Dahnil Anzar Simanjuntak.Dahnil Anzar Simanjuntak. Foto: CNN Indonesia/Bimo Wiwoho

Dahnil lantas menyebut deretan kebohongannya, mulai dari tak akan bagi-bagi kursi di pemerintahan, menyusun kabinet yang ramping, tak akan menaikkan harga BBM, tak akan melakukan impor, hingga rencana pembuatan mobil nasional Esemka.

Selain itu, kata Dahnil, keangkuhan pasangan Jokowi-Ma'ruf salah satunya dengan menyebut mereka yang berbeda sikap politik dan mengkritik sebagai orang 'budek dan tuli'. Pernyataan yang terlontar dari Ma'ruf Amin itu, kata dia, terkesan menghina kaum difabel.

"Tidak satu pun kata maaf yang disampaikan. Yang terjadi justru produksi kebohongan baru dengan penuh keangkuhan," ujar Dahnil. (panji/ain)