Hal itu akan dilakukan acara Pertemuan Kepala Otoritas Regulatori Obat Negara Anggota OKI, di Hotel Fairmont, Jakarta Pusat, pada 21-22 November 2018.
"Kita semua berkumpul, semua negara-negara Islam jadi kepentingan kita sama, tantangan kita sama, dikaitkan dengan program imunisasi kedepan, juga obat. Tapi kita bekerja sama bagaimana kita bisa menemukan vaksin halal," jelasnya setelah memberikan sambutan dalam acara pertemuan tersebut pada Rabu (22/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemungkinan untuk mengembangkan produk-produk obat dan vaksin dari sumber bahan baku yang halal kemudian dengan cara yang memenuhi ketentuan syarat-syarat halal, piloting yang tahap-tahap manifacturing, pengembangan dan produksinya bersama-bersama, ya itu ada dalam perencanan di action plan," jelas Penny.
Bersama Senegal, Indonesia menjadi negara yang cukup terdepan dalam pemenuhan standar mutu, keamanan dan penggunaan secara internasional untuk produk vaksin. Indonesia melalui Bio Farma telah mengekspor produk vaksin ke 141 negara dunia termasuk ekspor ke 49 negara anggota OKI.
Pertemuan yang merupakan kolaborasi antara BPOM RI dan OKI ini rencananya akan dihadiri oleh Menteri Kesehatan RI Nila Djuwita F. Moeloek, Kepala BPOM RI, perwakilan Sekretariat OKI, dan 32 negara anggota OKI, institusi OKI, mitra pembangunan internasional (WHO, UNICEF dan IDB) serta asosiasi industri farmasi dan vaksin dari negaraanggota OKI.
Lihat juga:Rubella dan Polemik Vaksin Mengandung Babi |
Pada 24 Agustus, PT Bio Farma sebagai produsen dan penyedia vaksin di Indonesia mengaku tengah melakukan riset terkait dengan pembuatan vaksin MR halal dan menargetkan vaksin ini bisa diproduksi pada 2024.
(ani/arh)