Agenda itupun disebutnya sudah kehilangan relevansinya karena Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang disebut sebagai pemicu aksi ini sudah mendapat hukumannya dalam kasus penistaan agama.
"Politik, itu sudah jelas politik, enggak ada hubungannya lagi dengan agama, enggak ada hubngannya dengan dakwah, apa yang mereka tuntut sudah dipenjara kok. Apalagi gunanya," ujar dia di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (21/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pikir mereka hanya mau mengkapitalisasi agama ini. Mengkapitalisasi agama terus menerus untuk kepentingan politik. Enggak ada hubungannya dengan dakwah. Dakwah itu ya mestinya dalam situasi seperti ini kita buat lebih tenang karena kita sudah mengerti suasananya sudah mulai agak tegang lagi kan," paparnya.
"Jangan bawa-bawa agama untuk begituan, kasian agamanya dibawa-bawa, padahal tujuannya jelas politik targetnya politik," tambahnya.
Ray mengaku konsep reuni aksi 212 aneh. Menurutnya, sebuah aksi demonstrasi seharusnya terhenti apabila tujuannya telah tercapai. Ia bahkan membandingkan gerakan reformasi 1998 yang lebih besar saja tidak pernah mengadakan reuni semacam ini.
Sebelumnya Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212 Eggi Sudjana menyatakan reuni Akbar 212 digelar sebagai bukti persatuan umat islam.
Ia tak membantah kemungkinan ada nuansa politik dalam acara tersebut mengingat tahun ini adalah tahun politik. Menurutnya, dukungan politik adalah hak, bukan kewajiban warga negara.
(sah/arh)