Reuni Aksi 212 Dinilai untuk Kepentingan Politik

CNN Indonesia | Rabu, 21/11/2018 21:18 WIB
Reuni Aksi 212 Dinilai untuk Kepentingan Politik Reuni 212 di Bundaran HI, Jakarta, tahun lalu. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Lingkar Madani (LIMA) Indonesia Ray Rangkuti menilai kegiatan reuni Alumni 212 yang rencananya digelar pada 2 Desember 2018 adalah murni kegiatan politik dan tak ada hubungannya dengan agama.

Agenda itupun disebutnya sudah kehilangan relevansinya karena Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang disebut sebagai pemicu aksi ini sudah mendapat hukumannya dalam kasus penistaan agama.

"Politik, itu sudah jelas politik, enggak ada hubungannya lagi dengan agama, enggak ada hubngannya dengan dakwah, apa yang mereka tuntut sudah dipenjara kok. Apalagi gunanya," ujar dia di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (21/11).


Ray menyebut acara itu nantinya akan jadi ajang untuk mengkapitalisasi agama demi kepentingan politik. Jika memang murni untuk dakwah, gelaran acara ini seharusnya diisi dengan syiar-syiar yang menyejukan situasi saat ini.

"Saya pikir mereka hanya mau mengkapitalisasi agama ini. Mengkapitalisasi agama terus menerus untuk kepentingan politik. Enggak ada hubungannya dengan dakwah. Dakwah itu ya mestinya dalam situasi seperti ini kita buat lebih tenang karena kita sudah mengerti suasananya sudah mulai agak tegang lagi kan," paparnya.

Meski tidak menentang acara reuni 212 tersebut, Ray meminta pihak panitia tak membawa kedok agama.

"Jadi, pertemuan 212 silahkan saja, tidak peru dihubung-hubungkan itu soal agama, macem-macem ya jelas tidak, itu masalahnya ya politik itulah entitas politik karena perjuangan 212 ya sudah selesai pak Ahok sudah dipenjara," tuturnya.

"Jangan bawa-bawa agama untuk begituan, kasian agamanya dibawa-bawa, padahal tujuannya jelas politik targetnya politik," tambahnya.

Ray mengaku konsep reuni aksi 212 aneh. Menurutnya, sebuah aksi demonstrasi seharusnya terhenti apabila tujuannya telah tercapai. Ia bahkan membandingkan gerakan reformasi 1998 yang lebih besar saja tidak pernah mengadakan reuni semacam ini.

"Yang besar sekali pun, perjuangan 98 itu, ya berhenti di 98. Waktu jatuh ya jatuh. Bahwa anggotanya membentuk kelompok-kelompok tertentu ya silahkan saja. Enggak ada reuni 98 yang jatuhin Soeharto, enggak ada," ujarnya.

Sebelumnya Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212 Eggi Sudjana menyatakan reuni Akbar 212  digelar sebagai bukti persatuan umat islam. 

Ia tak membantah kemungkinan ada nuansa politik dalam acara tersebut mengingat tahun ini adalah tahun politik. Menurutnya, dukungan politik adalah hak, bukan kewajiban warga negara. 

(SAH/arh)