Fadli Soal Prabowo Kampanye di Reuni 212: Mereka Gagal Paham

CNN Indonesia | Selasa, 04/12/2018 03:15 WIB
Fadli Soal Prabowo Kampanye di Reuni 212: Mereka Gagal Paham Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto).
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon membantah Reuni Alumni 212 merupakan kampanye terselubung calon presiden Prabowo Subianto jelang Pilpres 2019. Menurutnya, pihak yang menuding Prabowo kampanye di reuni aksi 212 gagal paham.

"Saya pikir mereka ini salah paham. Mereka ini gagal paham terhadap reuni 212," ujar Fadli di Gedung DPR, Jakarta, Senin (3/12).

Fadli menuturkan Reuni Alumni 212 merupakan refleksi kekecewaan terhadap pemerintahan Joko Widodo dalam menempatkan umat Islam.


Ia menyebut pemerintahan Jokowi selalu menuduh umat Islam intoleran hingga hendak mendirikan khilafah.

"Selama pemerintahan Jokowi ini pendekatan terhadap umat Islam selalu salah karena dari sebuah frame berpikir dan logika yang salah," ujar Wakil Ketua DPR ini.


Terkait dengan tudingan kampanye, Fadli juga menyebut bukan hanya Prabowo yang hadir dalam acara itu. Ia berkata banyak tokoh nasional hingga ulama dan pemuka agama lain yang hadir dalam acara tersebut.

Sehingga kehadiran Prabowo, kata dia, tidak terkait dengan agenda politik, terutama Pilpres 2019.

"Kalau kita lihat kemarin yang datang bukan cuma dari kalangan umat Islam. Ada tokoh-tokoh dari agama lain juga ada, nyaman-nyaman saja," ujar Fadli.

Di sisi lain, Fadli menilai orang rugi tidak hadir dalam aacara reuni kemarin. Sebab, Reuni Alumni 212 merupakan acara terbesar di planet bumi, melebihi acara musik Woodstock di Amerika Serikat.


Lebih dari itu, Fadli juga menilai Reuni Alumni 212 merupakan prestasi dalam demokrasi. Sebab, ia mengklaim acara tersebut tidak berniat melakukan revolusi meski diikuti jutaan orang.

"Bayangkan kalau negara lain ada acara seperti itu, bisa terjadi revolusi. Revolusi Bolshevik saja terjadi padahal hanya 200 ribu orang," ujar Fadli.

"Ini kan artinya kita sudah dewasa. Kalau mau revolusi ya sudah selesai. Tapi tidak ada niat itu. Semuanya ingin revolusi konstitusional," ujarnya. (panji/osc)