DPD Mendorong Giat Kerja Sama Daerah dengan Luar Negeri

CNN Indonesia | Minggu, 09/12/2018 03:00 WIB
DPD Mendorong Giat Kerja Sama Daerah dengan Luar Negeri Selain menjabat Ketua DPD, Oesman Sapta Odang pun dikenal sebagai Ketum Hanura. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Bali, CNN Indonesia -- Dewan Perwakilan Daerah (DPD) menilai kerjasama antara pemerintah daerah di Indonesia dengan negara lain merupakan hal yang penting bagi bidang investasi dan perdagangan.

Ketua DPD Oesman Sapta Odang alias OSO mengatakan kemitraan daerah yang luas akan berdampak pada percepatan pembangunan.

"Dalam rangka percepatan pembangunan daerah kita perlu menjadi hubungan kemitraan yang luas dengan berbagai negara," ujar OSO dalam sambutannya untuk Regional Diplomatic Meeting 2018 bertema 'Memperkuat Strategi Dan Efektivitas Kerja Sama Investasi Dan Perdagangan Antar Daerah Dan Luar Negeri' di Hotel The Stones, Bali, Sabtu (8/12).



OSO menuturkan Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber daya alam. Namun, ia menilai hal itu belum terkelola dengan optimal. Oleh karena itu ia berharap kerjasama yang dilakukan para pemdadengan luar negeri bisa memberi dampak positif bagi negara secara keseluruhan di masa mendatang.

Lebih lanjut OSO menuturkan DPD mendukung visi pembangunan dari pinggir atau daerah yang dicanangkan Presiden RI Joko Widodo. Pola pembangunan itu, kata dia, dapat mengatasi disparitas di bidang sosial dan ekonomi.

"Jika daerah maju maka negara pun demikian. Karena tidak pernah akan terjadi sebuah negara maju tanpa pembangunan daerahnya tidak maju," ujar pria yang juga menjabat Ketum Hanura tersebut.

Di tempat yang sama, Staf Ahli Menteri PPN Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan diplomasi ekonomi sangat penting untuk mendorong investasi di Indonesia agar tumbuh lebih tinggi dan mendorong iklim perdagangan yang kondusif.

Amalia menuturkan secara umum kondisi makro ekonomi Indonesia cukup stabil meskipun kondisi global sedang tidak stabil akhir-akhir ini. Ia berani mengatakan hal tersebut berdasarkan pertumbuhan ekonomi dalam kurun tiga tahun terakhir yang tidak pernah di bawah 5 persen. Bahkan, sambungnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 telah mencapai sebesar 5,2 persen.

Meski begitu, Amalia menuturkan kondisi tersebut tidak boleh membuat Indonesia berhenti meningkatkan persentase perekonomian. Sebab, ia melihat kontribusi terbesar pertumbuhan ekonomi di Indonesia berasal dari konsumsi.

"Dari 5,2 persen itu 2,7 persen dituang oleh konsumsi. Kedua terbesar adalah invenstasi yaitu 2,24 persen. Akan tetapi begitu lihat angka net ekspor adalah ekspor dikurangi impor memberikan sumbangan negatif," ujarnya.

Alasan net ekspor memberikan sumbangan negatif, kata Amalia, karena neraca perdangan Indonesia mulai awal tahun 2018 berjalan negatif.

"Sehingga kalau kita lihat dari sisi pertumbuhan ekonomi sisi pengeluaran, net ekspor kita memberikan sumbangan negatif sebesar minus 1 persen terhadap pertumbuhan ekonomi," ujar Amalia.

Terkait dengan kondisi itu, Amalia meminta semua pihak terkait mencermati bersama. Sebab, ia mengaku current account defisit bukan masalah jangka pendek.

"Ini adalah masalah dari struktur dan ekonomi kita. Jadi artinya perubahan bagaimana kita bisa mendorong ekspor kita nanti lebih baik ke depan tentunya salah satunya perlu didorong melalui diplomasi ekonomi yang lebih kuat," ujarnya.

(jps/kid)