Terus Unggul, Jokowi Antisipasi Fenomena Trump di Pilpres

CNN Indonesia | Senin, 10/12/2018 20:42 WIB
Terus Unggul, Jokowi Antisipasi Fenomena Trump di Pilpres Presiden Joko Widodo, di Jakarta, November. (Biro Pers Setpres)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon presiden petahana Joko Widodo alias Jokowi mengantisipasi perubahan dukungan di masyarakat akibat isu-isu yang beredar di media sosial yang bisa menjungkirbalikkan hasil survei dan prediksi.

Hal ini merujuk pada kekalahan capres Amerika Serikat Hillary Clinton pada Pilpres AS 2016 dan pemerintah Inggris untuk menggagalkan British Exit (Brexit). Padahal, suara dukungan kepada kedua pihak ini sebelumnya sudah mayoritas.

"Jangan seneng dulu kita menang survei dengan sebuah gap yang di atas 20 persen seperti itu terus. Hati-hati, jangan seneng dulu, hati-hati," ucap Jokowi, di Jakarta, Senin (10/12) malam.


"Karena tadi, keterbukaan dengan adanya media sosial yang sangat terbuka, munculnya isu yang satu bisa pengaruhi pemilih dengan dadakan-dadakan karena isu sudah disiapkan, tapi kita juga siap dengan isu. Kalau di [kubu] sana siap, kita juga harus siap," ucapnya.

Dalam sejumlah survei, Jokowi selalu memimpin dalam hal elektabilitas atas capres nomor urut 02 Prabowo Subianto.

Hal senada, kata Jokowi, pernah terjadi dalam Pilpres AS. Saat itu, capres Hillary Clinton terus memimpin dalam survei sebelum pencoblosan.

Terus Unggul, Jokowi Antisipasi Fenomena Trump di PilpresFoto: CNN Indonesia/Timothy Loen
"Semua survei katakan Hillary menang, semua survei sampai detik akhir," ucap dia.

"[Mantan Presiden AS Barrack] Obama pun waktu saya tanya, [Hillary] pasti menang, tapi kita lihat Donald Trump yang menang. Itu yang saya katakan bahwa landscape politik sudah berubah. Ini yang harus kita lihat kehati-hatian," tutur dia.

Fenomena sejenis, kata Jokowi, juga terjadi di Inggris Raya saat Perdana Menteri David Cameron optimistis pihaknya bisa memenangkan referendum soal kesetiaan Inggris di Uni Eropa. Nahas, kubu pendukung Brexit menang.

Presiden Jokowi pun sudah mengantisipasi serangan-serangan kepada pihaknya. "Tapi ingat bapak ibu, yang namanya petahana posisinya gampang dicari kesalahan," ucap dia.

Sebagai langkah untuk memelihara raihan suaranya, Jokowi menyebut akan melakukan strategi door to door untuk menjelaskan capaian pemerintahnya. Hal ini berdasarkan pengalamannya saat memenangkan pilkada di Solo pada 2010 dengan suara 90,09 persen.

"Apa yang bisa kita tarik ke sini, bahwa yang namanya door to door penting. Jelaskan ke masyarakat apa yang telah kita lakukan, apa yang telah kita kerjakan, sampai di mana, dan apa manfaat dari program yang telah kita kerjakan," tutur dia.

(tst/arh)