Hal ini merujuk pada kekalahan capres Amerika Serikat Hillary Clinton pada Pilpres AS 2016 dan pemerintah Inggris untuk menggagalkan British Exit (Brexit). Padahal, suara dukungan kepada kedua pihak ini sebelumnya sudah mayoritas.
"Jangan seneng dulu kita menang survei dengan sebuah gap yang di atas 20 persen seperti itu terus. Hati-hati, jangan seneng dulu, hati-hati," ucap Jokowi, di Jakarta, Senin (10/12) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Istana: Kalau Oposisi Tak Kritik Tidak Seru |
Dalam sejumlah survei, Jokowi selalu memimpin dalam hal elektabilitas atas capres nomor urut 02 Prabowo Subianto.
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen |
"[Mantan Presiden AS Barrack] Obama pun waktu saya tanya, [Hillary] pasti menang, tapi kita lihat Donald Trump yang menang. Itu yang saya katakan bahwa landscape politik sudah berubah. Ini yang harus kita lihat kehati-hatian," tutur dia.
Fenomena sejenis, kata Jokowi, juga terjadi di Inggris Raya saat Perdana Menteri David Cameron optimistis pihaknya bisa memenangkan referendum soal kesetiaan Inggris di Uni Eropa. Nahas, kubu pendukung Brexit menang.
Lihat juga:Trump Menang karena Peran Facebook? |
Sebagai langkah untuk memelihara raihan suaranya, Jokowi menyebut akan melakukan strategi door to door untuk menjelaskan capaian pemerintahnya. Hal ini berdasarkan pengalamannya saat memenangkan pilkada di Solo pada 2010 dengan suara 90,09 persen.
"Apa yang bisa kita tarik ke sini, bahwa yang namanya door to door penting. Jelaskan ke masyarakat apa yang telah kita lakukan, apa yang telah kita kerjakan, sampai di mana, dan apa manfaat dari program yang telah kita kerjakan," tutur dia.
(tst/arh)
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen