Isu Emak-emak di Pilpres 2019 Dianggap Mendegradasi Perempuan

CNN Indonesia | Rabu, 12/12/2018 20:13 WIB
Koalisi Perempuan Indonesia menyayangkan penggunaan jargon emak-emak dan isu kenaikan harga bahan pokok di Pilpres 2019 karena mendegradasi peran perempuan. Aksi simpatik Perempuan Milenial Indonesia dalam menangapi isu politik nasional yang melibatkan emak-emak. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Mike Verawati menyayangkan penggunaan jargon emak-emak dan isu kenaikan harga bahan pokok dalam kampanye Pilpres 2019. Menurutnya, hal ini sama saja mendegradasi peran perempuan itu sendiri.

Mike mengatakan seharusnya isu yang diangkat para kandidat bisa lebih luas. Sebab menurutnya, isu perempuan tidak hanya berkutat pada urusan rumah tangga, kenaikan harga bahan pokok dan seputar urusan dapur saja.

"Istilah atau jargon emak-emak yang diangkat dalam kampanye dalam pandangan kami justru malah mengecilkan makna dari perempuan itu sendiri," ujar Mike saat diskusi di Kantor KPU RI, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (12/12).



Mike berpendapat para calon presiden-wakil presiden seharusnya tidak mempersempit isu terkait tugas perempuan mengurus rumah tangga.

Lebih luas lagi, sedianya para kandidat mengangkat isu di mana peran perempuan masih dikesampingkan dalam berbagai sektor.

Salah satunya, perlindungan terhadap perempuan dalam konteks pekerja migran. Hingga saat ini banyak tenaga kerja wanita di luar negeri yang mengalami nasib buruk dengan perlindungan yang terbilang minim.

Selain itu, terkait partisipasi perempuan dalam politik. Jumlah perempuan yang terlibat dan menepati posisi strategis di lembaga atau instansi, termasuk di partai politik, sangat jauh dibandingkan dengan pria.

"Apakah itu sudah dibuka, apakah pemerintah sudah mampu menciptakan sistem sehingga keseteraan (gender) bisa dicapai?" ucap Mike.


Mike menyarankan tim kampanye para kandidat agar terlebih dahulu melakukan pengkajian dan analisis sebelum mengangkat isu yang berkaitan dengan perempuan.

Isu Emak-Emak di Pilpres 2019 Dianggap Mendegradasi PerempuanDeklarasi Gerakan Emak dan Anak Minum Susu (Gerakan Emas) di Stadion Klender. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Selain itu, pihaknya berharap agar para kandidat tidak menjadikan perempuan, dalam hal ini emak-emak, sebagai komoditi untuk kepentingan pemilu semata.

"Secara intensitas (isu) memunculkan perempuan sudah banyak, tapi sayangnya tidak disertai data atau updating bahwa persoalan perempuan bukan itu-itu saja. Harusnya dicari apa problemnya yang sekarang berkembang," ujarnya.

Sementara itu, peneliti Perludem Fadli Ramadhanil menilai pemilu kali ini masih diisi dengan konten-konten yang mengedapankan sensasi, bukan substansi.


"Kampanye itu ada dua unsur, substansi dan sensasi. Tapi selama lebih dari 2,5 bulan berjalan justru sensasi ini yang lebih banyak, susbtansinya minim," ujar Fadli.

Dia mengatakan para kandidat dalam berkampanye harus benar-benar menjelaskan detail program yang diusung, termasuk cara yang akan ditempuh. Dengan demikian masyarakat dapat memahami visi dan misi serta gagasan para kandidat.

"Ini sudah pemilu kelima kali. Sudah seharusnya aktor politik kita berpikir memfasilitasi, memberikan pendidikan politik soal subtansi ide dan gagasan," kata Fadli.

"Kalau soal sensasi saja, sayang saja uang negara dihabiskan untuk memilih pemimpin tapi publik tidak dapat ruang cukup mendapat info soal ide," tambahnya.
(fhr/pmg)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK