Kapal Sewaan Telat Datang, Pencarian Korban Lion Air Ditunda

CNN Indonesia | Senin, 17/12/2018 07:29 WIB
Kapal Sewaan Telat Datang, Pencarian Korban Lion Air Ditunda Pencarian ulang 64 jasad korban Lion Air JT-610 terpaksa ditunda karena kapal MPV Everest sewaan dari Belanda terlambat datang ke Indonesia akibat cuaca buruk. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pihak Lion Air menunda rencana pencarian ulang 64 jenazah korban Lion Air JT-610 pesawat Boeing 737 MAX 8 registrasi PK-LQP. Pencarian masih menunggu kapal MPV Everest yang disewa dari perusahaan swasta asal Belanda.

Juru Bicara Lion Air Danang Mandala Prihantoro mengatakan saat ini MPV Everest masih berada di Malaysia dan terkendala cuaca untuk sampai ke Indonesia.

"Kapal mengalami keterlambatan yang rencananya akan tiba di perairan Karawang pada Senin (17/12). Kondisi terakhir malam hari Sabtu (15/12) disebabkan cuaca buruk serta hujan deras di Johor Bahru," kata Danang kepada CNNIndonesia.com lewat keterangan tertulis, Senin (17/12).

Cuaca buruk, kata dia, menghambat persiapan dan juga menghalangi perjalanan MPV Everest. Kapal besar itu dijadwalkan berlayar dari Malaysia pagi ini.


Dengan perkiraan waktu tempuh perjalanan dari Johor Bahru menuju perairan Karawang adalah 2 hari dan 5 jam, kapal akan tiba di Karawang sekitar Rabu (19/ 12).

Setibanya di Karawang, MPV Everest bakal diterjunkan mencari 64 jenazah korban dan kotak hitam perekam suara di ruang kemudi pilot (Cockpit Voice Recorder/ CVR).

"Proses pencarian akan difokuskan berdasarkan pemetaan terakhir area koordinat jatuhnya penerbangan JT-610 dengan waktu operasional sepuluh hari berturut-turut, pada Desember 2018," tambah dia.

Pencarian dilakukan Lion Air secara mandiri dibantu perusahaan swasta asal Belanda. Lion Air merogoh kocek Rp38 miliar untuk operasi ini. Jika ada temuan, maka Lion Air akan menyerahkannya ke Basarnas.
Keluarga korban menuntut pemerintah usut tuntas penanganan kasus Lion Air JT 610. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Lion Air JT-610 pesawat Boeing 737 MAX 8 registrasi PK-LQP jatuh di perairan Karawang pada Senin (29/10). Sebanyak 189 orang penumpang dan awak kapal berada di kapal itu.

Basarnas dan beberapa lembaga lainnya melakukan pencarian selama tujuh hari. Lalu pencarian diperpanjang dua kali dengan masing-masing tiga hari. Pencarian ditutup pada Sabtu (10/11).

Tim Disaster Victim Identitication (DVI) Polri telah melakukan identifikasi jenazah terhadap 666 potongan tubuh yang diterima dari pencarian Basarnas. Hasilnya, baru 125 korban teridentifikasi setelah 24 hari operasi hingga Jumat (23/11).

Keluarga korban meminta Lion Air dan Basarnas kembali melakukan pencarian. Hal ini dilakukan menyusul 64 orang korban belum ditemukan.

Bahkan keluarga korban sempat melakukan aksi di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (13/12). Mereka meminta Presiden Joko Widodo turun tangan mengawasi Lion Air dan pihak terkait melanjutkan pencarian korban.

"Tolonglah, Pak, kami ini warga Indonesia yang butuh perhatian dari Bapak. Kalau bapak perintahkan, semuanya bisa lakukan. Bapak ini kan pemimpin tertinggi di Indonesia, siapa lagi kalau bukan Pemerintah?" kata salah satu keluarga korban, Johan Haris Saroinsong, saat melakukan aksi di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (13/12). (dhf/gil)