Menurutnya, selama kontestasi demokrasi di Indonesia masih marak bisnis pertambangan batu bara yang menyokong pendanaan politik.
Bisnis pertambangan batu bara yang menyokong pendanaan politik kepada paslon telah menimbulkan masalah lingkungan hidup yang serius.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komitmen pada Lingkungan Hidup
Lebih lanjut dia mengatakan pada masa kampanye Pilpres 2019 ini topik seperti dampak lingkungan hidup tidak pernah disinggung dalam aktivitas kampanye kedua paslon. Ini juga yang menurutnya menyebabkan rakyat apatis terhadap kerusakan lingkungan akibat pertambangan batu bara.
Kata Merah, bisnis batu bara yang dikelola politikus-politikus yang memiliki hubungan erat dengan kedua paslon dalam Pilpres 2019 merupakan bentuk oligarki politik yang sudah mengakar sejak lama.
Ia menyebutkan oligarki politik tersebut aktif berada di kedua kubu, baik berbasis keluarga maupun yang berlatar belakang kepolisian atau militer.
"Ada Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri utama koordinator yg memiliki 16 perusahaan batu bara maupun Sawit. Di kubu sebelah, kubu Prabowo-Sandi juga jelas lagi, Prabowo [Subianto] pemilik grup Nusantara Energi, perusahaan tambang batu bara, yang ada di Kutai Timur," jelasnya.
Selain itu, ia juga menyebutkan calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno memiliki saham tersebar di beberapa perusahaan tambang. Ada juga Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Erick Thohir yang turut ia sebut berhubungan dengan salah satu pemilik saham tambang batu bara terbesar saat ini.
Atas pernyataan-pernyataan JATAM tersebut, CNNIndonesia.com belum mendapatkan konfirmasi dari pihak-pihak yang disebutkan.