Kekecewaan Ahoker di Balik Keunggulan Tim Siber Prabowo

CNN Indonesia | Selasa, 18/12/2018 17:04 WIB
Kekecewaan Ahoker di Balik Keunggulan Tim Siber Prabowo Ilustrasi medsos. (REUTERS/Dado Ruvic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Fenomena penggalangan isu di dunia maya, khususnya lewat media sosial, diakui efektif mendongkrak suara kandidat di dunia nyata. Kubu calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto disebut unggul di bidang ini akibat kekecewaan para Ahoker, sebutan untuk pendukung mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Kalangan menengah ke bawah menjadi sasaran empuk, terutama isu politik identitas.

Co-founder perusahaan analisis big data GDILab Jeffry Dinomo alias Uje menyatakan pendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno unggul dalam hal kekompakan di media sosial dalam memviralkan isu tertentu. Mereka diduga lebih banyak bergerak sebagai pasukan siber dengan komando terpusat.

Sementara, pendukung pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin lebih banyak bergerak secara individual.


Dari hasil analisis GDILab, pendukung Jokowi-Ma'ruf memiliki 14,7 persen konten orisinal yang berisi program kerja yang sudah dan akan dikerjakan jika terpilih lagi. Selain itu, 69,4 persen konten mereka merupakan retweet konten asli dan 15,9 persen konten mendapatkan balasan berupa komentar.

Di sisi lain, pendukung Prabowo-Sandi hanya memiliki 1,3 persen konten asli alias hasil unggahan sendiri. Sementara, konten retweet mencapai 89,7 persen, dan hanya 8,9 persen membalas. Contohnya, dalam hal isu reuni 212.

Di samping itu, jumlah akun dengan perilaku mencurigakan atau suspicious behaviour yang lebih besar di kubu Prabowo, yakni 4,9 persen berbanding 3,8 persen milik kubu Jokowi. Akun mencurigakan itu memiliki ciri berupa jumlah follower di bawah 50 dan usia akun di bawah 6 bulan.

Capres Prabowo Subianto disebut punya keunggulan di media sosial berkat kekompakan pendukungnya memviralkan suatu isu, meski tak punya banyak isu orisinal.Capres Prabowo Subianto disebut punya keunggulan di media sosial berkat kekompakan pendukungnya memviralkan suatu isu, meski tak punya banyak isu orisinal. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menyebut penggunaan media sosial sebagai sarana mendulang dukungan masih sangat efektif.

"Medsos itu penting karena mampu menggiring opini karena punya editorial sendiri. Hal ini terbukti dalam peristiwa monumental aksi reuni 212 sangat efektif mengerakkan dan memobilisasi massa," kata dia, kepada CNNIndonesia.com, Selasa (18/12).

Efektivitas media sosial, lanjutnya, juga bisa dilihat dari kemenangan Donald Trump melawan Hillary Clinton di Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016. Saat itu, Trump dianggap menguasai media sosial ketimbang media mainstream yang lebih dekat kepada Hillary. Selain itu, Trump kalah dalam berbagai survei atas Hillary.

Kondisi yang hampir mirip terjadi pada Prabowo dan Joko Widodo alias Jokowi. Prabowo kalah dalam semua survei namun disebut unggul dalam penggalangan isu di medsos.

"Bahkan hasil survei hampir menyebut pemenang adalah Hillary, tapi faktanya yang menang Trump. Sementara Hilllary enggak ada bedanya dengan Jokowi sekarang yang hampir didukung media mainstream," ucap Pangi.

Senada, Peneliti Politik dari Lembaga Ilmu Pemngetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati mengakui dari segi penjangkauan kampanye siber jauh lebih efektif ketimbang dengan kampanye tradisional.

Para tersangka penyebar ujaran kebencian di media sosial, The Family Muslim Cyber Army (MCA).Para tersangka penyebar ujaran kebencian di media sosial, The Family Muslim Cyber Army (MCA). (CNN Indonesia/Safir Makki)
"Kampanye [siber] bisa menjangkau semua kalangan asalkan terjangkau jaringan teknologi dan pesan politiknya bisa dipahami secara instan dan mudah," kata Wasisto, Selasa.

Namun, efektivitas pasukan siber itu sangat bergantung pada sejumlah syarat. Yakni, pertama, isu-isu itu menggunakan sistem clickbait alias menggoda pembaca untuk melihatnya. Kedua, kalangan menengah ke bawah dengan daya kritis yang belum optimal. Isu politik identitas mudah dicerna kalangan ini.

"Biasanya cyber troops itu membidik kalangan pekerja menengah bawah yang notabene jumlahnya besar namun belum diimbangi dengan daya kritis cukup dalam membaca pesan informasi online," kata dia.

Ketiga, jika kalangan yang disasar lebih kritis, isu yang disampaikan harus sesuai dengan kepentingan kalangan itu, terutama dalam hal akses ekonomi dan publik.

"Sebagai contoh, kelompok elite atau menengah atas itu biasanya diserang dengan isu pajak atau subsidi karena otomatis mereka terkena pajak progresif. Kelompok menengah-tengah yang disasar isunya adalah soal pelayanan publik," ucap dia.

Karena itu, kata Wasis, masing-masing pasangan harus jeli mengelola isu yang digelontorkan di media sosial. Jika tidak, pasukan siber yang sudah dibentuk tidak akan efektif dan malah jadi bumerang.

Kekecewaan Ahoker di Balik Keunggulan Tim Siber PrabowoFoto: CNN Indonesia/Timothy Loen
"Karena pesan kampanye itu disesuaikan dengan latar belakang sosial ekonomi kelompok masyarakat yang disasar. Jika tidak akan menjadi negatif buat dia sendiri," tutur dia.

Kekecewaan Ahoker

Pangi menyebut pasukan siber sebenarnya tidak hanya dimiliki oleh tim Prabowo semata. Tim Joko Widodo-Ma'ruf amin, kata dia, memiliki tim sejenis namun kini kurang efektif. Hal itu disebut tak lepas dari kekecewaan tim medsos terhadap pemilihan calon wakil presiden.

"Media sosial udara Prabowo harus kita akui belakangan cukup solid dan agresif dibandingkan tim medsos Jokowi," kata dia.

Pangi menyebut salah satu tim siber Jokowi di masa lampau yang dikenal dengan Jokowi Ahok Social Media Volunteers (Jasmev). Namun, pergerakan dari tim siber itu kini sedang sangat berkurang.

"Kita masih ingat yang namanya Jasmev dan akun robot yang dibayar untuk mem-bully, mem-viralkan dan jadi trending topic. Saya enggak tahu kenapa mesin medsos Jokowi mati. Seperti enggak ada perlawanan," ucap dia.

Ia menduga itu terjadi karena kekecewaan kepada pengangkatan Ma'ruf Amin sebagai cawapres Jokowi. Diketahui, pendukung Jokowi di masa lalu sebagian berafiliasi dengan pendukung Ahok. Sementara, Ma'ruf dulu dikenal berseberangan dengan Ahok.

Pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Ahoker, mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi-Ma'ruf Amin, di Gedung Joeang ’45, Jakarta (25/8).Pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Ahoker, mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi-Ma'ruf Amin, di Gedung Joeang ’45, Jakarta (25/8). (CNN Indonesia/Hesti Rika)
"Banyak Ahoker mematikan mesin medsosnya. Operasi media sosial enggak jalan. Mungkin bisa saja mereka kecewa berat Pak Jokowi mengandeng Ma'ruf Amin yang mengeluarkan Fatwa MUI bahwa Ahok penista Agama," kata dia.

"Namun saya melihat akun medsos Ahoker tidur dan tidak all out memenangkan Jokowi," tutur dia.

(ctr/arh)