Dari data yang dihimpun pihaknya sampai Minggu (23/12) pukul 04.30 WIB, korban tewas sementara ini dilaporkan mencapai 20 orang, 165 orang luka-luka, 2 orang hilang, dan puluhan bangunan rusak.
"Data korban kemungkinan masih akan terus bertambah mengingat belum semua daerah terdampak di data," kata Sutopo dalam keterangan tertulisnya, Minggu (23/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Kabupaten Pandeglang ini tercatat 14 orang meninggal dunia, 150 orang luka-luka, 43 rumah rusak berat, 9 unit hotel rusak berat, dan puluhan kendaraan rusak. Sementara Jalan Raya penghubung Serang-Pandeglang putus akibat terjangan Tsunami.
"Penanganan darurat masih terus dilakukan oleh BPBD bersama TNI, Polri, Basarnas, SKPD, Tagana, PMI, relawan dan masyarakat. Bantuan logistik disalurkan," ujarnya.
Tsunami terjadi pada Sabtu (22/12) sekitar pukul 21.27 WIB. Lebih jauh Sutopo menjelaskan, faktor penyebab Tsunami masih dilakukan penyelidikan oleh BMKG untuk mengetahui secara pasti.
"Kemungkinan disebabkan longsor bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang pasang akibat bulan purnama. Dua kombinasi tersebut menyebabkan tsunami yang terjadi tiba-tiba yang menerjang pantai," kata dia.
"BMKG masih berkoordinasi dengan Badan Geologi untuk memastikan faktor penyebabnya," tambah Sutopo.