Cerita Pengungsi soal Ancaman Tsunami dan Waspada Kemalingan

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Rabu, 26/12/2018 08:14 WIB
Cerita Pengungsi soal Ancaman Tsunami dan Waspada Kemalingan Kampung nelayan Teluk Labuan, Pandeglang, Banten, porak poranda usai diterjang gelombang tsunami. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gelombang tsunami di Selat Sunda yang menyapu sebagian pesisir Pandeglang, Banten, pada Sabtu (22/12) malam, masih membekas bagi warga di sana.

Trauma dan ketakutan warga belum sepenuhnya hilang. Namun di Kampung Nelayan Teluk Labuan, sejumlah warga nekad bertahan di reruntuhan rumah mereka untuk menjaga harta yang masih tersisa.

Mata-mata mereka jeli mengawasi sejauh penglihatan. Kecurigaan terhadap orang asing begitu terasa saat CNNIndonesia.com menyambangi daerah itu, Selasa (25/12).


"Pak, jangan diambilin. Ada yang punya. Jangan maling," kata salah seorang warga saat berada di reruntuhan bangunan Kampung Nelayan Teluk Labuan, Pandeglang, Banten.

Kecurigaan warga tersebut bermula dari kejadian buruk yang menimpa seorang warga kampung. Maman, warga setempat yang bersedia diwawancara mengatakan adiknya kehilangan sejumlah barang berharga di rumahnya.

Itu terjadi saat rumah dalam keadaan kosong karena ditinggal mengungsi. Tak tanggung-tanggung, Maman menyebut adiknya kehilangan emas 30 gram dalam peristiwa itu. 

"Kemarin malam ada yang kemalingan. Adik saya emasnya hilang, 30 gram. Kayaknya bawa senter juga soalnya kan diskni listrik mati," kata Maman.

Maman mendapat kabar tersebut dari adiknya. Maman mengatakan saat itu sang adik sedang kembali ke rumahnya untuk mengecek barang-barang berharga yang ditinggal saat tsunami datang pada Selasa.

"Tapi sudah enggak ada. Pasti ada maling," kata Maman.

Rumah warga di Kampung Nelayan Labuan Batu, Pandeglang, Banten, yang hancur tersapu tsunami. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Sejak kejadian itu, Maman yang selama ini mengungsi di daerah Kalumpang, jadi enggan kembali lagi ke pos pengungsian. Dia, seperti sejumlah warga lainnya, memilih bertahan di kampung nelayan untuk menjaga agar tidak ada lagi maling mencuri harta benda warga sekitar.

Maman menyadari keputusannya bukan tanpa risiko. Tsunami susulan masih berpeluang terjadi. Waktunya tak bisa diperkirakan. Badan Meteorologi, Geofisika dan Klimatologi pun sudah mengingatkan warga pesisir untuk waspada dan menjauhi bibir pantai.

Selain itu, Maman juga mengaku masih trauma. Namun keinginannya untuk menjaga harta keluarga yang tersisa, mengalahkan semua ketakutan itu.

"Sebenarnya saya masih takut sama tsunami. Tapi kalau ada kejadian kemalingan, saya mau bantu jaga adik saya aja. Tetangga juga banyak yang bantu jaga di sini," kata Maman.

Kampung Nelayan Teluk Labuan, Pandeglang, Banten termasuk wilayah yang belum tersentuh alat berat. Suasana di sana masih sangat berantakan usai dihantam tsunami dari Selat Sunda.

Rumah hancur berserakan. Kapal rusak terdampar tak keruan. Sampah menggunung. Bau amis tak bisa dihindarkan. Dalam suasana porak poranda itulah maling melancarkan aksinya. 

Seorang warga lain, Amin mengatakan ada tetangganya yang kemalingan. Dia menyebut motor sekaligus dokumen BPKB hilang dicuri.

"Itu kemarin malam. Senin malam. Ada yang kehilangan," kata Amin.

Serupa dengan Maman, Amin pun jadi berani tinggal tak jauh dari Kampung Nelayan Teluk Labuan. Meski rumahnya sudah hancur, dan trauma tsunami masih berkecamuk di dalam ingatan, Amin tak ingin kasus pencurian terjadi lagi.

Dia berniat ikut bersama warga lainnya tidur di masjid dekat Kampung Nelayan. Malam hari, Amin pun tak keberatan untuk berkeliling mengantisipasi kehadiran pencuri.

"Bagaimana ya. Kalau sudah ada yang kemalingan ya kita juga jadi gampang curiga. Kita sudah enggak punya apa-apa lagi. Cuma puing-puing dan besi ini aja yang bisa kita jaga," kata Amin. (wis/wis)