Mengikis Trauma Korban Tsunami Selat Sunda di Lapangan Futsal

Dhio Faiz, CNN Indonesia | Kamis, 27/12/2018 06:57 WIB
Mengikis Trauma Korban Tsunami Selat Sunda di Lapangan Futsal Korban tsunami Selat Sunda berada di pengungsian Posko Penanggulangan Bencana Kemensos di Lapangan Futsal Rancateureup, Labuan (24/12). (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Pandeglang, CNN Indonesia -- Senyum Nina Suparti Maliana masih mengembang setelah empat hari menemani para korban tsunami Selat Sunda di Posko Induk Kementerian Sosial di Lapangan Futsal Karabohong, Kecamatan Labuan, Pandeglang, Banten.

Nina adalah seorang guru pendidikan anak usia dini (PAUD). Bersama kawan-kawannya di Uswah Hasanah Perwira, Nina memberikan bantuan layanan dukungan psikososial.

Setiap hari, Nina dkk membuat acara kecil-kecilan guna membantu mengikis trauma para korban, khususnya anak-anak.


"Anak-anak kita kasih edukasi supaya kuat, ceria, bahagia, jujur. Jujur artinya kalau sudah dibagikan bantuan, ya sudah. Diajari supaya tertib, tidak meminta, tapi bisa saling membantu," kata Nina saat ditemui CNNIndonesia.com di Posko Induk Kementerian Sosial, Pandeglang, Rabu (26/12).

Nina sudah turun sejak hari pertama. Ia dibantu belasan relawan dari unsur Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan Forum Komunikasi Nasional Taman Anak Sejahtera (FKN TAS).

Di Posko Induk Kemensos, tercatat ada 1.127 orang pengungsi. Sebanyak 349 orang di antaranya adalah anak-anak usia 0-17 tahun.

Biasanya, setiap pagi pukul 08.00 WIB, Nina dan teman-teman mengumpulkan anak-anak dan orang tuanya di lapangan futsal.

"Kami berikan permainan, lagu-lagu mungkin, dongeng dengan boneka tangan. Kita bikin mereka tidak bosan," tutur dia.

Acara itu digelar hingga pukul 10.00 WIB. Kemudian pengungsi disilakan istirahat. Baru pada pukul 16.00 WIB, anak-anak kembali dikumpulkan.

Pada sore hari, anak-anak beragama Islam akan diajak untuk mengaji Al-Quran. Nina dkk mencoba menanamkan pendidikan spiritual meski dalam keadaan tertimpa musibah.

Nina menyebut ada beberapa tantangan yang ia dan rekannya hadapi. Anak-anak di wilayah pesisir, ucapnya, lebih aktif sehingga butuh tenaga ekstra untuk mendampingi mereka.

"Kita berusaha untuk tidak [emosional], kondisi apapun harus dienakin. Kalau ada yang curhat, nangis, kita enggak boleh nangis, kita harus kuatkan mereka," ucap Nina.

Nina dkk bakal terus mendampingi para korban hingga masa tanggap bencana usai. BNPB menetapkan masa tanggap bencana terhitung 22 Desember 2018 hingga 4 Januari 2019. (wis/wis)