Kritisi Infrastruktur Jokowi, Sandi Gunakan Data Bank Dunia

CNN Indonesia | Kamis, 03/01/2019 03:24 WIB
Kritisi Infrastruktur Jokowi, Sandi Gunakan Data Bank Dunia Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno kritisi pembangunan era Jokowi. (CNN Indonesia/Farid Miftah Rahman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno kembali menyinggung soal pembangunan infrastruktur yang era kepemimpinan Presiden Joko Widodo
 
Sandi menegaskan pembangunan infrastruktur saat ini tak tepat sasaran. Ia menyebut data itu diperkuat dengan pernyataan Bank Dunia.

"Secara gamblang Bank Dunia sudah mengatakan bahwa perencanaan dan pelaksanaan pembangunan infrastruktur kita itu tidak dilakukan dengan baik," kata Sandi saat menghadiri Dialog dan Silaturrahim Tokoh-tokoh dan Pengusaha se-Jawa Timur, di Surabaya Rabu, (2/1). 

Sandi pun menyayangkan jika pemerintah kini lebih fokus melakukan pembangunan dari sisi infrastruktur fisiknya saja, dan mengesampingkan pembangunan manusianya. 


"Pembangunan infrastruktur kita itu tidak dilakukan dengan baik, sehingga akhirnya tidak tepat sasaran dan tidak memberikan dampak yang baik bagi masyarakat," kata dia.


Sementara itu, Bank Dunia ternyata telah memberikan klarifikasi terkait kajian mereka soal proses perencanaan dan pendanaan infrastruktur Indonesia, yang ramai jadi pembahasan publik.

Dalam klarifikasinya Bank Dunia ingin memberikan klarifikasi bahwa laporan itu selesai ditulis pada tahun 2014 sebelum Presiden Joko Widodo dilantik.

"Kami ingin memberikan klarifikasi bahwa laporan ini selesai ditulis pada tahun 2014 sebelum Presiden Jokowi dilantik," pernyataan Bank Dunia dalam laman resminya, Selasa (1/1).

Bank Dunia melanjutkan laporan tersebut bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai keadaan perencanaan dan pembiayaan infrastruktur pada saat itu dan dimaksudkan untuk penggunaan secara internal di Bank Dunia.


Namun yang menjadi janggal, dalam laporan Bank Dunia yang diterima redaksi, dicantumkan adanya laporan infrastruktur di Indonesia yang dirilis pada Juni 2018. Di dalamnya justru terdapat pembahasan mengenai evaluasi ekonomi, termasuk infrastruktur Indonesia tahun 2017.

Di bagian 3 dalam laporan itu misalnya, dituliskan Indonesia menjalankan pembangunan infrastruktur oleh BUMN namun tidak memiliki pola yang berkelanjutan dan justru menghambat investasi swasta.

Sebelumnya, Sandi juga mengkritik pemerintah yang sebenarnya bisa membangun infrastruktur tanpa membebani anggaran negara. Dia juga mengaku pernah mengerjakan beberapa proyek besar tanpa membebani uang rakyat. 


Sandiaga Uno berjanji, apabila terpilih bersama capres Prabowo Subianto, dia akan terus melanjutkan pembangunan infrastruktur di sejumlah wilayah dengan pendekatan yang berbeda, yaitu mengandalkan sektor kemitraan dengan swasta atau lewat penganggaran dengan jangka panjang. 

Sandiaga juga menyebut penting untuk melibatkan dunia usaha dan swasta, dan bukan hanya BUMN dengan menggunakan APBN atau APBD.

"Saya pernah turut membangun infrastruktur jalan Tol Cipali sepanjang 116km, tidak memakai uang negara dan membebani utang untuk negara dan BUMN," ujar mantan wagub DKI ini usai mengikuti acara Maulid Nabi di Rantau Prapat Labuhan Batu, Selasa (11/12). 

Di samping dana swasta murni, imbuh Sandi, pemerintah juga dapat mendorong penguatan kemitraan antara pemerintah dengan swasta dalam skema PPP (public private partnership).

Menurut Sandi, skema PPP atau KPBU sudah ada dasar hukumnya, tetapi saat ini belum maksimal dalam implementasi.

"Proyek-proyek infrastruktur dengan skema PPP belum dioptimalkan sehingga banyak yang terlambat diputuskan," kata Sandi. 

(frd/DAL)