Mbah Rono Ragukan BMKG soal Gunung Anak Krakatau Picu Tsunami

CNN Indonesia | Kamis, 03/01/2019 17:20 WIB
Mbah Rono Ragukan BMKG soal Gunung Anak Krakatau Picu Tsunami Gunung Anak Krakatau. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ahli vulkanologi Surono alias Mbah Rono meragukan pernyataan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut tsunami di wilayah Banten disebabkan karena letusan Gunung Anak Krakatau.

Kata Surono, ukuran Gunung Anak Krakatau masih terlampau kecil untuk menimbulkan letusan yang mengakibatkan tsunami.

"Saya tidak percaya bahwa letusan anak Krakatau bisa menimbulkan tsunami, enggaklah. Ibunya iya. Waktu itu sudah tinggi dan besar, letusan itu dahsyat sekali," ujar Surono dalam sebuah diskusi di kawasan Rawamangun, Jakarta Pusat, Kamis (3/1).


Pria yang akrab disapa Mbah Rono mengatakan pernyataan yang menyebut Gunung Anak Krakatau sebagai biang keladi tsunami di Selat Sunda, maka itu adalah tindakan kriminalisasi.

"Tsunami karena letusan anak Krakatau, kalau itu dituduhkan itu kriminalitas. Kriminalisasi terhadap anak Krakatau. Kecil sekali dan bahkan dapat dikesampingkan untuk mendakwa anak Krakatau meletus bisa menimbulkan tsunami," ujarnya.
Menurut dia aktivitas letusan yang terjadi di sana adalah hal biasa. Sebuah gunung yang usianya muda, wajar mengeluarkan letusan-letusan untuk membentuk dirinya menjadi gunung yang utuh.

"Sekarang meletus gitu-gitu sajalah. Pernah lebih besar dari yang kemarin juga pernah, baik-baik saja," ujarnya.

Selain itu, Surono juga menyoroti retakan yang ditemukan oleh BMKG di Gunung Anak Krakatau. Menurutnya retakan itu adalah hal biasa terjadi di atas gunung.

"Kalau retakan ya di gunung itu wajar-wajar saja, apalagi bekas longsoran. Yang sekarang harus dipastikan retakan itu menimbulkan longsor atau nggak? kalau longsor ada tsunami atau nggak?" Kata Surono.

Kata dia, yang terpenting saat ini adalah ketepatan informasi soal potensi tsunami. Informasi tanpa kepastian, ujarnya, malah akan membuat masyarakat semakin takut dan khawatir.

"Kalau kepastian tidak ada, terus ada retakan, iya di sana (nelayan dan warga) yang was-was. Oleh karena itu ada pejabatnya yang memberikan kepastian untuk itu, kan dia dibayar untuk itu," ujarnya.
(sah)