"Oke pemerintah boleh memberi segudang data. Tapi saya bawa cerita, cerita emak-emak di pasar," tutur Sandi di kantor Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta, Rabu (9/1).
Diketahui, Sandi memang sering menggunakan pengakuan dari masyarakat untuk mengkritisi perekonomian. Dia kerap menyampaikan kembali keluhan di level bawah, khususnya soal harga-harga pangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sandi yakin tidak ada rekayasa yang dibuat-buat ketika warga yang ditemuinya mengaku harga-harga cenderung naik turun. "Saya tanya yang di sini. Direkayasa atau tidak, saya tanya harga naik atau tidak? Semua menyatakan yang sama," tutur Sandi.
Namun, Sandi menggarisbawahi bahwa itu adalah keluhan masyarakat. Dia hanya menampung dan menyampaikan kembali.
"Rakyat menyatakan hidup mereka susah. Saya tanya cari kerja, susah. Mau di kota mau di pedesaan," tutur Sandi.
Sandi menilai sempitnya lapangan kerja merupakan implikasi dari maraknya tenaga kerja asing di Indonesia. Orang Indonesia sendiri menjadi sulit memperoleh pekerjaan.
Sandi menganggap fenomena itu tidak sesuai dengan konstitusi Indonesia yang mana pemerintah mestinya memberikan kesempatan kerja pada warga negaranya. Dia ironis ketika warga Indonesia justru pergi ke luar negeri untuk menyambung hidupnya dan memberi nafkah kepada keluarga.
"Sementara tenaga kerja di sini dibuka untuk tenaga kerja asing," ucap Sandi.