Sandi Lebih Percaya Keluhan Emak-emak Dibanding Data

CNN Indonesia | Kamis, 10/01/2019 05:53 WIB
Sandi Lebih Percaya Keluhan Emak-emak Dibanding Data Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno menyatakan lebih mempercayai keluhan emak-emak dibanding data pemerintah. Dok. Tim Prabowo-Sandiaga)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno mengaku lebih suka mendengar penuturan masyarakat dibanding mempercayai begitu saja data-data milik pemerintah soal harga pangan. Menurutnya, masyarakat mengeluh soal kestabilan harga pangan dan berbeda dengan data pemerintah.

"Oke pemerintah boleh memberi segudang data. Tapi saya bawa cerita, cerita emak-emak di pasar," tutur Sandi di kantor Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta, Rabu (9/1).

Diketahui, Sandi memang sering menggunakan pengakuan dari masyarakat untuk mengkritisi perekonomian. Dia kerap menyampaikan kembali keluhan di level bawah, khususnya soal harga-harga pangan.


Sandi tidak mempersoalkan jika pemerintah memiliki data soal harga pangan yang berbanding terbalik dengan keluhan masyarakat. Walau bagaimanapun, kata Sandi, masyarakat lah yang merasakan langsung, sehingga harus didengar.


Sandi yakin tidak ada rekayasa yang dibuat-buat ketika warga yang ditemuinya mengaku harga-harga cenderung naik turun. "Saya tanya yang di sini. Direkayasa atau tidak, saya tanya harga naik atau tidak? Semua menyatakan yang sama," tutur Sandi.

Tak hanya soal harga, Sandi juga mengaku selalu menampung keluhan tentang sempitnya lapangan pekerjaan. Dia mengatakan baik di desa maupun kota, masyarakat sulit mendapatkan pekerjaan.

Namun, Sandi menggarisbawahi bahwa itu adalah keluhan masyarakat. Dia hanya menampung dan menyampaikan kembali.


"Rakyat menyatakan hidup mereka susah. Saya tanya cari kerja, susah. Mau di kota mau di pedesaan," tutur Sandi.

Sandi menilai sempitnya lapangan kerja merupakan implikasi dari maraknya tenaga kerja asing di Indonesia. Orang Indonesia sendiri menjadi sulit memperoleh pekerjaan.

Sandi menganggap fenomena itu tidak sesuai dengan konstitusi Indonesia yang mana pemerintah mestinya memberikan kesempatan kerja pada warga negaranya. Dia ironis ketika warga Indonesia justru pergi ke luar negeri untuk menyambung hidupnya dan memberi nafkah kepada keluarga.

"Sementara tenaga kerja di sini dibuka untuk tenaga kerja asing," ucap Sandi.

(bmw/agt)