Jubir Presiden Imbau Warga Tak Berspekulasi soal Teror KPK

CNN Indonesia | Rabu, 09/01/2019 21:13 WIB
Jubir Presiden Imbau Warga Tak Berspekulasi soal Teror KPK Juru bicara Presiden Johan Budi. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Juru bicara Presiden Johan Budi Sapto Prabowo mengimbau semua pihak tak berspekulasi mengenai dugaan teror terhadap pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hari ini. Menurutnya, semua pihak harus menunggu hasil penyelidikan Kepolisian.

"Tunggu bagaimana penjelasan Polri. Polri segera melakukan proses penyelidikan," kata Johan di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (9/1).

Jelang Subuh tadi, sekitar pukul 01.00 WIB, terdengar suara pecahan barang agak keras di kediaman Wakil Ketua KPK Laode M Syarif. Beberapa jam setelah itu, kejadian serupa terjadi di kediaman Ketua KPK Agus Rahardjo.


Kedua kejadian itu diduga teror melalui bom molotov. Namun Johan enggan beri keterangan lebih lanjut ketika ditanya apakah dugaan teror itu terkait dengan perkara korupsi yang sedang ditangani KPK.

Menurutnya, semua pihak tak bisa langsung mengaitkan teror dengan penanganan kasus.

"Enggak bisa. Itu mungkin masalah pribadi. Enggak bisa dihubungkan belum tentu ada kaitannya dengan satu orang atau satu kasus," tutur mantan Jubir KPK ini.

Johan menyatakan dulu dirinya juga kerap mengalami kejadian diduga teror saat masih di KPK. Mulai dari kendaraannya diserempet kendaraan lain dari samping hingga pemotongan selang radiator mobil pribadinya.

"Saya tidak tahu itu bagian dari teror atau tidak. Tapi dulu kan mobil parkir di pinggir jalan. Ya tahu pekerjaan saya kan mengumumkan tersangka tentu banyak orang tak suka," ucapnya.

Sandiaga Prihatin

Terpisah, calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahudin Uno menyatakan rasa simpatinya kepada pimpinan KPK yang mengalami teror bom.

"Kita sampaikan bahwa Prabowo-Sandi bersimpati dan turut prihatin dengan upaya-upaya menebar rasa takut dan juga teror," kata Sandi di kantor Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta.

Sandi, merujuk dari asumsi sejumlah pihak, menyebut tindakan teror terhadap pimpinan KPK tersebut merupakan upaya untuk melemahkan semangat pemberantasan korupsi.

Berangkat dari asumsi demikian, Sandi menyatakan pihaknya berada di belakang KPK. Dia menegaskan bahwa penegak hukum khususnya KPK harus didukung.

"Jangan sampai kita mundur. Sejengkal pun tidak," kata Sandi.

Sandi berjanji akan memperkuat institusi penegak hukum jika terpilih pada Pilpres 2019. Terutama lembaga-lembaga yang menangani kasus korupsi.

Dia menganggap masyarakat sudah muak dengan korupsi. Karenanya, pemberantasan tindakan rasuah itu harus semakin diperkuat.

"KPK terutama, Polri, dan juga Kejaksaan. Kita pastikan bahwa penegakan hukum ini jangan sampai bisa diganggu gugat oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Jadi, tidak usah takut," kata sandi. (chri/wis)